4 Mahasiswa UGM Berhasil Bantu Petani Minimalisasi Kerugian Petani dengan Alat iniloh!

Infokampus.news Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melalui empat mahasiswa terbaiknya berhasil meciptkan sebuah alat irigasi penepis embun upas yang biasanya muncul di dataran tinggi.

Berangkat dari permasalahan fenomena embun upas, timnya sepakat membuat alat yang dapat membantu petani di dataran tinggi untuk mengurangi risiko kerugian karena embun upas yang mengenai tanaman menyebabkan gagal panen.

“Kemudian kami ke Dieng dan berdiskusi dengan petani sana, kami menapatkan hasil, mereka rugi besar ketika musim-musim seperti ini kalau mereka tidak melakukan penyiraman (secara) terus pada tanamnnya” Ujar Kholis salah satu mahasiswa yang menciptakan alat, Dilansir melalui kompas.com.

Kholis menambahkan, petani biasanya menggunakan cara penyimpanan manual untuk menghilangkan embun upas.

“Waktu penelitian ada embun upas (di tanaman). petani setiap pagi selalu melakukan penyiraman,” ujar dia.

Namun penyiraman manual ini dapat menyebabkan kelebihan air pada tanah serta meningkatkan potensi serangan hama dan penyakit tanaman lain kaena jumlah air yang disiramkan melebihi kebutuhan tanaman.

Alat irigasi ini diciptakan oleh mahasiswa angkatan 2017 yakni Kholishotul Ma’rifah, Setyawati, Denis Tio Yudhistira (Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem) dan Muhammad Fiqi Rohman (Elektronikan dan Instrumentasi).

Baca Juga :  Berikut Ketentuan dan Persyaratan SNMPTN 2020

Proyek mahasiswa dibahwa bimbingan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Dr. Ngadisih, S.TP, M.Sc ini dibiayai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T).

Alat yang diciptakan mahasiswa UGM ini beroperasi otomatis. alat akan menyirami tanaman ketika terdapat embun upas, bahkan sebelum embun upas terbentuk.

“alat ini kami setting secara otomatis menggunakan sensor untuk mengatur suhu dan kelembaban di lahan petani,” Kata Kholis.

Selang dipasang dengan bentuk letter U, dengan jarak nozzle (lubang pengeluaran air) lebih besar, yakni berjarak 1 meter yang menyesuaikan daya pompa dan penyebarannya.

Kholis menjelaskan, jika satu tanaman diberi satu nozzle, hal ini tak akan efisien karena banyak air terbuang sia-sia.

“Petani sangat diuntungkan karena mereka tidak perlu susah-susah menyirami tanamannya. Petani tinggal memantau saja,” lanjut Kholis. Jumlah air yang dikeluarkan diatur dengan waktu yang telah terprogram, sehingga tanaman tidak akan terlalu banyak menerima air.

Pemasangan alat irigasi otomatis yang dapat menghalau embun upas oleh mahasiswa UGM.(Kholis M.) Mereka menerapkan waktu per 5 menit berdasarkan sensor suhu yang ada, dengan artian 5 menit alat menyala, dan 5 menit alat mati, jika suhu berada di bawah 10 derajat celcius.

Baca Juga :  BRIN Luncurkan 47 Daftar Perguruan Tinggi Klaster Mandiri Tahun 2016-2018

Sumber air yang digunakan berasal dari tanah yang ditampung dalam tandaoh yang ditanam di bawah tanah. Air ini tidak diberi campuran zat apa pun. Alat irigasi otomatis ini sudah diimplementasikan ke petani di wilayah Banjarnegara. Kholis dan ketiga temannya melakukan penelitian di daerah Tamansari, Karangkobar Banjarnegara Jawa Tengah.

Akan tetapi, hasil penggunaan alat dilihat dari jumlah produksi masih menunggu hingga masa panen tiba.

“Hasilnya masih menunggu sampai panen. Kurang lebih 2,5 bulan lagi. Soalnya habis lebaran baru tanam. Secara jangka pendek sih tanaman tidak mengalami kelayuan,” ujar Kholis.

Ia menyebutkan, saat ini timnya masih terus melakukan proses penyempurnaan alat. “Kami masih berfokus untuk Pimnas pada Agustus mendatang,” ujar dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *