Abdi untuk Negeri, UNAIR Luncurkan Rumah Sakit Terapung!

Infokampus.newsUniversitas Airlangga (UNAIR) resmi luncurkan Rumah Sakit Terapung (RST) pertama di Pulau Jawa. RST ini juga sekaligus yang kedua di Indonesia menyusul berdirinya Rumah Sakit Apung milik dr. Lie A. Dharmawan. Rumah sakit yang bernama “Ksatria Airlangga” ini diresmikan di Pelabuhan Tanjung Perak, tepatnya di dermaga Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya, Sabtu  (11/11).

Bersama-sama, Dekan Fakultas Kedokteran Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K), Sekjen PP IKA-UA Dr. Budi Widajanto, Ketua IKA-UA Wilayah Jawa Timur Dr. Hendy Hendarto, Sp.OG., dan Ketua IKA FK UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG., menandai launching dengan memencet sirine kapal. Di waktu yang sama, Phinisi selebar 7,5 meter dan panjang 27 meter itu bergerak pelan meninggalkan dermaga. Pinisi tersebut sekadar berkeliling di sekitar Tanjung Perak hingga Pelabuhan Gresik, hanya sebagai simbolis. Nahkoda Mudatsir, petang itu menjalankan kapal RST dengan kecepatan 12 knot. Kemudian semuanya kembali merapat di dermaga Kesyahbandaran tepat pukul 18.30 WIB.

Rumah Sakit Terapung Siap Mengabdi ke Nusantara

Sebelumnya, kapal Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga” telah teruji keamanan dan kelancarannya dengan menempuh pelayaran jarak jauh perdananya. Didukung oleh pernyataan Kapten Kapal RST “Ksatria Airlangga”, Mudasir, dikutip dari laman UNAIR, ”Alhamdulillah, selama dalam perjalanan enam hari kami tidak mengalami kendala berarti. Mesin kapal, walau ini mesin baru, tidak ada masalah. Hanya saja, kami tidak berani memaksimalkan kecepatan antara 9-11 Knot/Jam, tetapi hanya sekitar 70% saja antara 6-7 Knot/jam. Ibaratnya ini inreyen,”  Rute pelayaran itu melewati Galesong, Kab. Takalar, Sulawesi Selatan, tempat dibangunnya kapal pinisi ini, mulai Sabtu (9/9) kemarin dan tiba di Pelabuhan Gresik, Jawa Timur, Jumat (15/9) siang.

Selama perjalanan panjang Galesong-Gresik ini, hampir semua aman terkendali kecuali kapal yang terombang-ambing relatif keras pada hari kedua pelayaran disebabkan guncangan ombak besar setinggi antara 2-3 meter. Akibatnya, tiang layar di bagian belakang kapal sampai jatuh.

Beruntung hanya ada sedikit kerusakan lebih kecil, yang ternyata disebabkan oleh belum terpasangnya layar. Mudasir membenarkan bahwa ciri khas kapal pinisi adalah layarnya. Ada di bagian depan dan bagian belakang. Tiadanya layar dalam perjalanan perdana ini memang sesuai kesepakatan, sebab pembuatan layar baru akan dilengkapi setelah sandar di Gresik, sekaligus melengkapi peralatan medis rumah sakitnya.

Dikabarkan Mudasir pula, keenam awak kapal juga baik-baik saja, karena perbekalan logistik dan obat-obatan juga lebih dari cukup.

Pembangunan Rumah Sakit Terapung ini digagas oleh Dr. Agus Haryanto, Sp.B., seorang alumni Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR yang berdinas di kawasan kepulauan di Provinsi Maluku. Melihat mirisnya kondisi pelayanan kesehatan di pulau-pulau terpencil yang masih sangat minim, hatinya tergerak untuk melakukan sebuah pengabdian dalam bidang pelayanan kesehatan pula. Bekerjasama dengan Ikatan Alumni (IKA) UNAIR, akhirnya Dr. Agus berhasil mewujudkan impian bersama untuk turut serta dalam pemerataan pelayanan kesehatan di Indonesia. (him)

Sumber: UNAIR

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coba Yuk Beasiswa Turki 2018 Untuk S1, S2, S3 Ini!

Batas: S1 16 April s/d 14 Mei 2018, S2 5 Februari s/d 5 Maret 2018 Beasiswa Turki 2018

Close