Bangun Startup, Alumni UI Ini Ciptakan Aplikasi Panti Asuhan

Infokampus.news – Kemajuan teknologi memberi dampak pada kemudahan dalam mencari informasi. Di era digital saat ini, semua hal bisa dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, termasuk dalam membantu anak yatim piatu di panti asuhan.

Ide tersebut digagas oleh salah satu alumnus Universitas Indonesia (UI), Rizki Dwi Saputro. Bersama timnya, dia mengembangkan startup sosial berbasis aplikasi yang kemudian diberi nama Kapiler Indonesia.

Baca Juga:

Aplikasi berbasis Android ini mampu menghubungkan panti asuhan dengan para agen perubahan, sehingga terjadi pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan panti asuhan. Di dalamnya, terdapat data-data berupa lokasi, kondisi, dan kebutuhan panti asuhan.

“Dengan membentuk Kapiler Indonesia, mimpi itu bisa terwujud, bahkan lebih. Saya enggak hanya punya satu panti asuhan, tapi banyak. Saya juga bisa ajak orang lain yang punya mimpi sama atau mau membantu mereka,” tuturnya dinukil dari laman UI, Jumat (18/11/2016).

Alumnus Fakultas Teknik UI angkatan 2010 menjelaskan, data-data panti asuhan didapat dari pengurus panti setelah tim Kapiler melakukan survei, ditambah data dinas sosial, serta kontribusi dari masyarakat umum sebagai pengguna aplikasi.

“Selain memetakan, kami juga fokus mengaktivasi panti asuhan tersebut. Agar orang tahu kondisi dan kebutuhan mereka saat ini. Yang paling tahu kan mereka, sehingga harus mereka yang menceritakan. Kalau user umum bisa menambah lokasi dan mencari panti kalau akan ada acara,” terangnya.

Rizki mengaku, ide pembuatan Kapiler Indonesia sudah muncul ketika dia masih kuliah. Kala itu, mantan Kepala Departemen Sosial Masyarakat BEM UI 2014 itu sering diminta memberikan rekomendasi panti asuhan di sekitar kampus untuk kegiatan bakti sosial.

“Setiap tahun ada sekitar 10 sampai 14 pihak yang bertanya. Sedangkan saya hanya tahu dua panti. Lalu saya lihat ada orang yang mau bantu panti asuhan dan ada panti asuhan yang sebenarnya butuh bantuan. Tapi enggak ada orang yang mempertemukan kedua belah pihak ini. Sedangkan mengandalkan google juga enggak update,” sebutnya.

Begitu lulus, Rizki pun langsung menjalankan startup sosial tersebut. Menurut dia, setiap proses yang dilakukan selalu menyenangkan walaupun menemui berbagai tantangan.

“Proses yang paling saya suka adalah proses belajar, karena startup itu berkembang, jalan atau mati. Kedua adalah punya alasan untuk bermain ke panti asuhan. Waktu saya lebih produktif dan jadi punya semangat hidup. Ketiga adalah bertemu banyak orang, belajar banyak dari mereka, dan memiliki kenalan baru itu menyenangkan,” tukasnya. (FAM)

 

Sumber: UI

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Gita Adinda Nasution, Mahasiswi Wirausaha Penemu Obat Diabetes dari Gula

Menjadi seorang wirausaha memang banyak menghasilkan manfaat yang bukan hanya dinikmati diri sendiri, tapi juga dinikmati oleh orang lain. Tengok...

Close