Beri Contoh Virus Corona, Guru Besar FMIPA UM Ajak Gunakan Bahan Ramah Lingkungan

INFOKAMPUS.NEWS – Dosen FMIPA Universitas Negeri Malang,Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Pd dikukuhkan menjadi Guru Besar UM pada tangal 18 Februari 2020.

Saat di wawancarai oleh Tim Infokampus.news, ia memaparkan penelitiannya mengenai “Rekonstruksi Kritis Kurikulum Pendidikan Biologi” (17/02/2020). Penelitian ini dilaksanankan untuk Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, S1 program Studi Biologi maupun program studi Pendidikan Biologi.

Pada kesempatan ini, ia menyampaikan bahwa penelitian yang ia lakukan ini utamanya berlandaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan memiliki peran penting sebagai modal dasar pembangunan Indonesia. Namun,  keanekaragaman hayati Indonesia kini mengalami penurunan dari segi  kualitas dan kuantitas. Sehingga peran pendidikan biologi ini penting.

Ilmu biologi merupakan ilmu mengenai makhluk hidup dan keanekaragaman hayati beserta interaksinya. Biologi menjadi ilmu dasar dan menjadi landasan untuk ilmu terapan lainnya, seperti kedokteran, farmasi, perikanan peternakan, kehutanan, dan bioteknologi.

Biologi merupakan ilmu yang sangat penting karena aplikasi temuannya untuk kesejahteraan manusia, misalnya produksi pangan berkelanjutan, peningkatan kesehatan melalui penyedian obat-obat dengan nutrisi yang aman, energi yang ramah lingkungan dan perlindungan kepada lingkungan. Rekontruksi pendidikan biologi di Sekolah dan Perguruan Tinggi yang berlandaskan pendidikan pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebermanfaatannya.

“Oleh sebab itu adapun tujuannya dirumuskan lebih tepat. Ada enam tujuan yang dirumuskan dan pada tujuan kelima dijelaskan bahwa mengembangkan konsep dan prinsip biologi dan keterkaitannya dalam ilmu terapan lainnya. Hal ini menjadi salah satu tujuan yang harus diperhatikan karena kecenderunganya bahwa biologi selalu berkaitan dengan ilmu lain. Misalnya untuk menghasilkan padi yang bagus harus dikaitkan dengan aspek sosial yang berkaitan langsung dengan para petani,” ungkapnya.

Prof. Hadi Suwono juga menjelaskan bahwa keanekaragaman hayati kita saat ini dapat menjawab tantangan hari ini. Misalnya dengan menggunakan bahan ramah lingkungan dan hendaknya siswa diberikan pendidikan dengan bentuk penemuan atau eksperimen agar mereka menjadi anak yang kreatif dan inovatif.

Ia mencontohkan seperti yang terjadi saat ini, mewabahnya Virus Corona, maka siswa dapat belajar langsung bagaimana mencegah virus itu dengan menggunakan masker dan dapat mendidik siswa tanpa mengabaikan aspek kesehatan.

Selanjutnya, ia memberikan contoh lainnya  yaitu mahasiswa yang dipulangkan dari China mereka melalui tahap screening dan dinyatakan sehat sehingga dapat kembali ke kegiatannya semula.

Selain itu, pendidikan biologi harus menyadari bahwa pembangunan berkelanjutan kita itu penting. Kemudian perkembangan biologi meningkat secara eksponensial dan kurikulumnya pun jangan sampai tertinggal. Dengan berkembangnya biologi yang dinamis maka pengembangan penemuan ilmiah dan hubungan masyarakat harus ditingkatkan.

Dengan munculnya teknologi modern, telah memperluas biobisnis/bioenterpreneur. Jadi, harapannya mahasiswa biologi dapat mempelajari bisnis dan tidak hanya mahasiswa ekonomi saja.

Oleh sebab itu, tantangan guru, sekolah,maupun perguruan tinggi adalah menyelaraskan kondisi siswa di abad 21, yang mana siswa lebih tertarik dengan kehidupan di luar akademik.

Ia menyampaikan bahwasanya penelitian yang ia lakukan ini merupakan penelitian yang cukup lama dengan menyusun pengembangan kurikulum selama 2017-2018 dan u ntuk SMA/SMP penelitian dari 2016-2018.

“Dengan melihat akar permasalahan, yaitu dengan mengubah kurikulum biologi. Misalkan di SD mata pelajaran biologi itu masuk di IPA, nah, dari sini guru bisa mengajarkan biologi dengan memberikan contoh langsung di lingkungan sekitar. Dan saat SPM mereka harus tau apa manfaatnya untuk masyarakat, sehingga saat di Perguruan Tinggi mereka mempelajari hal yang lebih kompleks lagi misalkan senyawa apa yang terdapat di dalam tanaman, dan apakah senyawa yang terkandung ini dapat menjadi obat dan bisa dikelola secara industri,” paparnya.

“Kurikulum sekarang  ini terlalu padat dengan konsep maka rekontruksi ini berbasis pada nilai kemanusian dan kemanfaatan bukan tentang ilmu, tapi  juga kebermanfaatan yang menuju ke arah terapan. Pembelajaran ini bisa meningkatkan literasi biologi, literate itu artinya memahami atau dalam bahasa jawanya “MELEK” terhadap biologi dan lingkungan menjadi sangat penting bagi kebermanfaatan dalam masyarakat,” pungkasnya. (Arn/Nad/Rfl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *