Bhinneka Tunggal Ika Itu Berbeda-Beda yang Satu, Jangan Dibalik

Infokampus.news, Malang – Badan legislatif seringkali hanya dinilai baik kinerjanya jika menghasilkan banyak peraturan selama jabatan kerjanya. Dr. Nurhayati Ali Assegaf M.Si, anggota DPR RI menerangkan bahwa hal tersebut merupakan tolak ukur yang kurang sepadan.

“Kenapa yang dipertanyakan hanya fungsi legislasi? Padahal kita juga punya fungsi pengawasan,” ujarnya dalam acara kuliah tamu yang digelar fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang (UNMER) pagi ini (22/12).

Ia mengatakan negara ini adalah negara hukum, dan salah satu wewenang DPR yang sering tidak dipertanyakan adalah memastikan terlaksananya hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

“Tolong dilihat ya, kami juga bekerja untuk mengawasi hukum. Kita harus tekankan ini agar hukum benar-benar berlaku sesuai dengan undang-undang,” tambahnya.

Berbeda – Beda tapi Satu, Bukan Satu namin Berbeda.

Ditilik dari kondisi Indonesia yang masyarakatnya sekarang tengah dilanda krisis kepercayaan kepada hukum dan lembaganya. Ia berharap masyarakat sadar akan hukum kemajemukan yang sudah ada sejak negara ini merdeka.

“Kita dari awal sudah sepakat tadinya negara kita adalah kerajaan, lalu kita sepakat mendirikan NKRI. Kita memang bukan negara sekuler, tapi hendaknya kepercayaan tidak dijadikan satu,” paparnya.

Dalam pengamatannya, ia berharap masalah masalah hukum yang tengah marak terjadi di sekitar kita mampu teratasi dengan dasar hukum kemajemukan ini.

“Jangan satu tapi berbeda beda, tapi kita harus berbeda beda tapi satu, terlebih lagi dilandasi Bhinneka Tunggal Ika. Jadi jika ada perselisihan hukum yang menyangkut perbedaan selayaknya masyarakat bisa memaklumi. Selain itu kami DPR juga berperan untuk mengawasi jalan atau tidak, bukan hanya bikin undang-undang saja kok jadi kami akan bantu awasi,” pungkasnya. (Pus)

Berita Terkait

  • Dahulu kala Indonesia pernah mengalami masa kejayaan pada zaman kerajaan Majapahit, jauh sebelum para penjajah negeri Eropa datang untuk berlabuh dan berdagang. Pada saat itu nusantara, wilayah kekuasaan Majapahit sangat besar, bahkan hingga mencakup wilayah Kamboja, Laos, Vietnam dan juga Philipina atau yang sekarang kita sebut ASEAN.
  • Mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Ramadhan Chairan Maulana Mar, meraih penghargaan teknologi internasional

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beasiswa Phd e-ASIA JRP Scholarship Program!

e-ASIA JRP Scholarship Program beasiswa penuh dari MEXT Jepang bagi putra putri terbaik Indonesia yang akan melanjutkan studi PhD.

Close