Bioaction: Formula Efektif dan Efisien dalam Produksi Bioetanol

Infokampus.news – Bahan bakar fosil merupakan bahan bakar utama yang diandalkan umat manusia hingga saat ini. Namun, bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui menjadikan bahan bakar ini semakin langka. Indonesia merupakan satu dari sekian negara yang diperkirakan hanya dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar fosil selama 23 tahun mendatang. Pemerintah bekerjasama dengan masyarakat mencari sumber energi alternative untuk mengatasi masalah ini. Energi alternative yang dihasilkan juga diharapkan tidak menimbulkan polusi udara yang dapat menyumbang kerusakan dan efek rumah kaca yang telah terjadi. Saat ini Indonesia telah mengembangkan salah satu sumber energi alternative yaitu bioethanol. Pengembangan bioethanol yang dilakukan karena diperkirakan produksi bioethanol di Indoonesia akan terus meningkat dengan persentase kenaikan 5,6% (Iman et al, 2011).

Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan hasil fermentasi gula yang berasal dari sumber polisakarida seperti selulosa dengan bantuan mikroorganisme (kapang dan bakteri) (Elfiah, 2010). Tanaman yang umum digunakan sebagai bahan produksi bioetanol adalah singkong, dan kelapa. Namun, kedua bahan tersebut banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti penggunaan singkong yang juga terbentur dengan meningkatnya kebutuhan pangan berbasis olahan singkong sebagai diversifikasi pangan oleh masyarakat, sehingga diperlukan bahan alternative lain. Bahan baku alternative yang berusaha dikembangkan adalah buah bintaro (Cerbera manghas).

Bintaro merupakan jenis tanaman mangrove yang banyak tumbuh di daerah tropis Indonesia dan belum dimanfaatkan secara maksimal (Gaillard, 2004). Buah ini memiliki kandungan selulosa yang sangat tinggi yaitu sebesar 36,945% sehingga sangat berpotensi untuk bahan baku bioethanol (Chang et al, 2000). Pengolahan buah bintaro menjadi bioethanol dilakukan melalui proses hidrolisis untuk memecah selulosa menjadi glukosa yang merupakan bahan baku fermentasi bioethanol (Iman et al, 2011).

Berdasarkan latar belakang tersebut kami berusaha mencari formula efektif dan efisien dalam produksi bioethanol dari buah bintaro. Proses pengoahan buah bintaro yang dilakukan berbeda dari peneliti terdahulu yang juga mengolah buah bintaro menjadi bioetanol. Proses yang dilakukan dimulai dari pretreatment, uji fehling, uji Nelson-Sommoogyi, delignifikasi, hidrolisis asam sulfat, fermentasi, dan distilasi.

Hasil yang diperoleh dari uji fehling menunjukkan bahwa buah bintaro mengandung gula pereduksi, dibuktikan dengan adanya warna merah bata di dasar tabung reaksi. Besarnya kandungan gula pereduksi juga dibuktikan dengan uji Nelson-Somogyi dengan kadar sebesar 7.002 ppm. Untuk hasil uji gas kromatografi diketahui bahwa persentase bioethanol yang dihasilkan dari bahan baku buah bintaro dengan formula yang kami gunakan yaitu sebesar 0,977% dan hasil tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Dari hasil tersebut diketahui bahwa formula yang kami gunakan lebih efektif dalam mengolah buah bintaro menjadi bioethanol.

Keunggulan lain dari penelitian ini terletak pada tingginya efisiensi waktu yang dibutuhkan. Iman (2011) membutuhkan waktu 9 hari untuk mengolah buah bintaro menjadi bioethanol, sedangkan kami membutuhkan 4 waktu 4 hari 3,5 jam. Harga dan implementasi dari penelitian ini juga ekonomis karena bahan-bahan yang digunakan tergolong murah dan mudah didapat.

Penggunaan buah bintaro untuk produksi bioethanol skala besar juga tidak akan persaingan dengan pemeuhan kebutuhan masyarakat terutama pangan, karena buah ini tidak dapat dikonsumsi akibat kandungan racun cerberin yang dimiliki. Formula BIOACTION juga dapat dicoba pada sumber selulosa lain. Apabila etanol yang dihasilkan melebihi roadmap penelitian sebelumnya maka formula BIOACTION layak dikomersialkan. Formula BIOACTION yang digunakan secara massal diharapkan dapat meningkatkan produksi energi biomassa yang berefek domino terhadap ketercapaian cita-cita pemerintah pada Kebijakan Energi Nasional (KEN) tahun 2025, khususnya pada sector energi biomassa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Detektor Getaran Berbasis Pendulum Solusi Implementasi Early Warning System (EWS) Bencana Gempa Bumi

Kondisi geografis ini mengakibatkan Indonesia termasuk Negara dengan intensitas bencana yang tinggi, salah satunya gempa bumi.

Close