Bisnis Teknologi Pemroses Biofuel ala Dosen ITB

Infokampus.news –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin mendorong pengembangan riset dan inovasi di Indonesia. Hal itu dilakukan sebagai senjata Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0.

Namun, upaya pengembangan riset dan inovasi tidaklah mudah. Setidaknya itu yang dialami oleh Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Subagjo dalam merintis industri katalis di Indonesia.

Katalis merupakan bahan yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia. Bahan ini merupakan kunci teknologi proses yang digunakan pada berbagai industri mulai dari kimia, petrokimia, pengilangan minyak dan gas, termasuk teknologi energi terbarukan berbasis biomassa dan minyak nabati.

Sejak menjadi mahasiswa di ITB pada 1971, Subagjo mulai tertarik pada reaksi kimia dan katalis. Ketertarikannya terus dipupuk hingga ia menyelesaikan pendidikan doktor di Universite de Poitier di Perancis pada 1981.

Setelah kembali, ia mulai meneliti lebih dalam tentang katalis bersama tim Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB (TRKK-ITB) pada 1982. Dengan keterbatasan, tim mulai merakit mesin untuk meneliti katalis sembari mencari formula katalis yang tepat sesuai kebutuhan.

Menurut Subagjo, orang Indonesia cenderung lebih mempercayai teknologi dari luar dibandingkan teknologi yang dihasilkan oleh orangnya sendiri. Kondisi ini membuat para inovator dalam negeri harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa produknya tak kalah saing.

“Tahun 1996 saya baru mendapatkan tantangan dari industri. Sebelum-sebelumya, industri belum ada yang mau,” ujar Subagjo

Hampir dua dekade kemudian, pada 2011, TRKK-ITB berhasil memproduksi katalis komersial pertama yang kemudian disebut dengan Katalis Merah Putih.

“Dulu, cita-cita kami cuma asal sedikit lebih buruk dibandingkan katalis impor juga enggak papa tetapi katalis pertama kami itu lebih bagus dari impor,” ujarnya.

Beberapa katalis pengolahan minyak bumi yang dikembangkan TRKK-ITB bersama PT Pertamina (Persero) telah digunakan oleh perseroan di beberapa kilangnya.

Bahkan, sejumlah katalis yang dihasilkan berhasil membantu proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi bensin nabati, diesel nabati, hingga avtur nabati dalam skala kecil. Proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati tersebut dikembangkan tim bersama Pertamina.

Produk katalis dan proses pengolahan yang dikembangkan TRKK-ITB akan digunakan Pertamina dalam memproduksi produk bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar.

Subagjo berkisah perjuangan ia dan timnya tidak akan berhasil tanpa dukungan pemerintah melalui bantuan dana penguatan inovasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi.

Tim juga mendapatkan bantuan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk merancang dan membangun pabrik pilot untuk produksi bensin nabati dari minyak sawit berkapasitas 10 hingga 20 liter per hari di kampus.

Tak kalah penting, peran serta industri yang memiliki semangat merah putih dalam mendukung inovasi juga diperlukan. Dengan demikian, hasil penelitian bisa digunakan oleh industri. Dalam hal ini, Pertamina dan sejumlah perusahaan lain yang mempercayai kualitas produk katalis yang dihasilkan.

“Mitra industri itu penting. Kalau sudah dapat tapi tidak bisa diuji coba untuk skala besar untuk apa? Dulu itu, susahnya tidak ada mitra industri,” ujarnya.

Ke depan, pengembangan industri katalis di Indonesia masih panjang. Subagjo masih ingin mewujudkan cita-cita untuk bisa membangun pabrik katalis buatan anak bangsa di Indonesia. Cita-cita yang kemungkinan akan terwujud tahun depan dengan dukungan PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Rekayasa Industri, dan Pertamina.

Selain itu, untuk mendukung ekosistem industri, TRKK-ITB juga tengah merancang dan mengembangkan unit produksi bensin nabati berkapasitas 100 liter per hari dan 8 ton per jam. Unit berkapasitas besar ini tengah diupayakan TRKK-ITB bersama perusahaan pelat merah PT Energi Manajemen Indonesia. (Jul)

Berita Terkait

  • Infokampus.news - Institut Teknologi Bandung (ITB) menerima 1622 calon mahasiswa baru S1 melalui jalur SNMPTN 2019 dari total 11878 peserta yang mendaftar. Pengumuman kelulusan tersebut sudah dapat diakses sejak Jumat (22/3) melalui laman http://pengumuman.snmptn.ac.id atau http://snmptn.itb.ac.id. Calon mahasiswa yang diterima di ITB melalui SNMPTN 2019 berasal dari 34 propinsi di Indonesia, sebagian besar masih berasal dari Jawa Barat (612 orang), DKI Jakarta (304 orang), dan Banten (89 orang). Sebagian lagi berasal…
  • Infokampus.news - Dari namanya saja, institut dan universitas sudah jelas berbeda. Menurut KBBI, universitas berarti perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan/atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu. Sementara itu, institut adalah organisasi, badan, atau perkumpulan yang bertujuan menyelenggarakan usaha pendidikan, kebudayaan, sosial, persahabatan (antarbangsa), rehabilitasi, dan sebagainya. Maka dari itu, universitas seolah memiliki hak yang lebih luas dalam pengelolaan keilmuannya, berbeda dengan institut yang lebih…

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
pertahankan akredtasi A
Selamat! Prodi S2 Teknik Sipil Unhas Berhasil Pertahankan Akreditasi A dari BAN-PT

Infokampus.news -  Departemen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin Makassar  berhasil mengukir prestasi gemilang. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) baru saja

Close