Bukan Film Superhero! Psikolog Ungkap Alasan kenapa Anak Dilarang Menonton Film Joker

Infokampus.news – Sejak awal minggu ini, ramai perbincangan jagat raya mengenai peringatan untuk tidak mengajak anak nonton film joker di beberapa group diskusi dan lini media sosial. apakah kalian salah satunya?

Faktanya, film produksi Warner Bros yang satu ini melalui Lembaga Sensor Film (LSF) sudah diberi label D17+ alias untuk penonton dewasa di atas 17 tahun, namun nama Joker terlanjur lekat dengan sosok superhero yang merupaka idoal banyak anak terutama pada film Batman.

BUKAN FILM SUPERHERO 

Hal pertama yang perlu diketahui orangtua adalah film Joker bukan film superhero dan sama sekali tidak seperti film DC atau Marvel. anda tidak akan menemuka jagoan berkostum keren atau senjata canggih dengan teknologi mutakhir di film yang diperankan oleh Joaquin Phoenix ini.

Joker merupaka film drama thriller yang menceritakan tentang seorang pria paruh baya bernama Arthur Fleck yang berupaya menjadi seorang stand up comedian sukses. namun, kondisi politik sosial dan ekonomi kota Gotham yang berantakan terus menjegal langkahnya. semua kesulitan dan rintangan inilah yang membuat pandangan hidup Arthur berubah hingga menjadi seorang kriminal. semua kata yang dilontarkan dalam film ini rasanya tidak bisa dianggap menghibur untuk anak-anak.

Baca Juga :  UMM Jadi Tuan Rumah Presidential Meeting dan Forum Perkumpulan Nationwide University Network Indonesia (NUNI)
TIDAK MEMILIKI PESAN POSITIF 

Joker bukan sosok yang kita harapkan menjadi panutan untuk anak. dia memiliki penyakit  mental, kerap bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri, yang pantas mendorongnya melakukan kekerasa dan pembunuhan.

adegan pengeroyokan, penggunaan senjata, baku hantam, mayat korban, gambar porno, orang mabuk, merokok, telanjang, masturbasi, kerusuhan, penusukan, perusakan, penembakan hingga pembunuhan yang sangat gamblang, cipratan dan semburan darah. tentu jika kalian orangtua, mohon segera hindari film ini.

BERDAMPAK UNTUK ANAK 

Psikoloh Alzena Masykouri MPsi, Osi dari sentra tumbuh kembang anak, Kancil Jakarta Selatan memberikan penjelasan terkait film ini.

“anak dibawah 13 tahun, masih berpikir konkret dan cara belajar paling baik bagi mereka adalah modelling, meniru. jadi jelas besar ya, dampaknya kalau diajak nonton,”

Sementara anak diatas 13 tahun mulai bisa berpikir abstrak, memahami alasan orang lain dan mulai membuat prinsip sendiri.

“Baru mulai loh ya! artinya masih sangat perlu perndampingan dan diskusi supaya konsep yang terentu sesuai dengan value yang dianut keluarga dan norma manusiawi secara umum,” tegasnya.

Baca Juga :  Pemuda Papua Sukses Selesaikan Masa Studi di Negeri Pontianak

Alzena menekankan orang tua pun perlu berdiskusi dengan anak tentang bagaimana penyakit mental atau gangguan kejiwaan dihubungkan dengan perilaku kriminal Joker. Atau tentang bagaimana seharusnya kita menanggapi penindasan. “Kalau ada orang yang mengintimidasi, mem-bully, berbuat jahat pada kita, apakah jadi pantas kita sakiti?”

Mungkin, ada juga anak yang tidak bertanya apa-apa dan tampak ‘baik-baik’ saja setelah menonton film yang suram seperti Joker ini. Namun kata Alzena, orang tua tidak boleh mengabaikannya.
“Kalau habis nonton film seperti ini anak diam saja, kemungkinan besar anak tengah atau sudah sibuk mengolah dari sudut pandangnya sendiri yang belum tentu benar!” tukas Alzena.
Hal ini karena otak anak telah terpapar sesuatu yang tidak semestinya ia saksikan dan dengar. Dampaknya, anak bisa menjadi stres, tertekan, lantas menjadi sinis, hingga berpikir dan berperilaku negatif. jadi lebih baik patuhi saja batasan usia yang sudah ditetapkan LSF. kecuali anda merasa siap mendampingi dan berdiskusi dengan anak saat selesai menonton seperti yang dijelaskan oleh psikolog anak diatas tadi. (edt)

 

Baca Juga :  Beginilah Sosok M. Atiatul Muqtadir, Ketua BEM UGM yang Berhasil Curi Perhatian Publik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *