Debat Panas di Bedah Methodology and Research Practice in Southeast Asian Studies, Mana Metodologi Yang Tepat Untuk Asia Tenggara?

Infokampus.news – Buku merupakan jendela ilmu yang sudah tidak bisa dipungkiri lagi manfaatnya, hanya dengan membaca seseorang bisa mendapatkan banyak sekali pengetahuan dan bahkan keberuntungan. Dengan membaca kita dapat melihat sebuah inti dari pembahasan hanya dengan mempelajari dan menerapkannya.

Menyadari pentingnya peran buku ini bagi setiap orang membuat Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) berinisiatif untuk membuat sebuah kajian tentang Asia Tenggara. Bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) mengadakan diskusi mengenai Methodology and Research Practice in Southeast Asian Studies. Buku tersebut merupakan kumpulan opini dari para ilmuwan sosial yang fokus pada kajian Asia Tenggara dari berbagai negara, seperti Indonesia, Singapura, Thailand, dan Jerman.

Acara ini merupakan bagian dari program World Class Professor #2 (WCP #2) yang menghadirkan Professor Judith Schlehe dan Professor Jürgen Rüland dari Freiburg University selaku editor buku Methodology and Research Practice in Southeast Asian Studies dan Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. sebagai pembedah buku tersebut.

Dengan membahas mengenai perdebatan metodologis yang dibahas dalam buku yang ditulis oleh para ilmuwan sosial peminat kajian Asia Tenggara dari ragam cabang keilmuan. Menurut Jürgen Rüland yang berlatar belakang ilmuwan politik, metode riset yang bersifat universal bisa saja diterapkan di Asia Tenggara. Jürgen memiliki pandangan bahwa metode riset universal bisa dipakai karena metode riset partikular yang sering digunakan oleh para antropolog atau sejarawan kurang sistemik, rentan bias, dan amat sulit untuk dikomparasikan dengan penelitian lainnya.

Pandangan Jürgen ditentang oleh antropolog Judith Schlehe. Menurut Judith, metode riset harus dikontekstualisasikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang ditemukan di lapangan. Selain itu, faktor bias yang kerap menganggu pembaca bisa dihindari jika sedari awal peneliti sudah menetapkan keberpihakannya dalam penelitian. Menurutnya, dengan cara itu pembaca bisa tahu kecenderungan apa yang dipilih oleh peneliti. Namun, Judith mengakui bahwa hingga saat ini belum pernah tercipta konsensus dari para ilmuwan sosial terkait metode apa yang cocok diterapkan di wilayah ini. Oleh Karena itu, ia mendorong ilmuwan lokal Asia Tenggara untuk percaya diri berinovasi dengan cara menciptakan metode baru yang cocok dipakai serta melakukan riset kolaboratif dengan ilmuwan lain dari disiplin keilmuan berbeda agar konsensus bisa tercipta.

Dosen Antropologi Budaya UGM : Asia Tenggara Memerlukan Riset Relasional Bukan Riset Komparatif

Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. selaku dosen antropologi budaya menyebut jika ide yang diusung oleh Professor Jürgen Rüland merupakan ide lama yang sudah tidak lagi relevan. Mengenai wacana riset komparatif dianggapnya tidak memadai untuk dilakukan di wilayah Asia Tenggara. Menurutnya riset yang bercorak relasional lebih bisa diterapkan dibanding riset bercorak komparatif.

“Banyak ilmuwan barat yang membandingkan negara-negara di Asia Tenggara, misal Malaysia dengan Filipina, sebagian berhasil, tapi lebih banyak yang gagal,” ujarnya.

“Ilmuwan sosial terbelah menyikapi hal tersebut, ada yang menganggap itu masalah, ada yang yang beranggapan itu hal yang wajar,” tegasnya. (has)

Sumber : https://www.ugm.ac.id/

 

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Gandeng Konsorsium Halal Jawa Tengah, UNNES Adakan Forum Diskusi Inovasi Pengolahan Makanan

Makanan adalah salah satu kebutuhan pokok bagi manusia yang sudah tidak dapat ditawar lagi, banyaknya variasi pilihan membuat sebagian orang

Close