Detektor Getaran Berbasis Pendulum Solusi Implementasi Early Warning System (EWS) Bencana Gempa Bumi

Infokampus.news – Di Indonesia Terdapat 3 lempeng aktif yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Kondisi geografis ini mengakibatkan Indonesia termasuk Negara dengan intensitas bencana yang tinggi, salah satunya gempa bumi. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) Pada tahun 2015 tercatat 184 kali total gempa bumi diatas 5 SR. Jumlah kejadian gempa bumi berbanding lurus dengan dampak yang ditimbulkan, diantaranya sarana dan prasarana umum yang rusak sampai jatuhnya korban jiwa.

Penyebab tingginya korban jiwa tak lain karena jalur komunikasi antara petugas dan warga yang terlalu lama, masyarakat sendiri pun harus menunggu instruksi petugas akankah itu gempa berbahaya dan diharuskan segera mengungsi atau tidak.

Menjawab kegelisahan warga Desa Penataran, kecamatan nglegok, Kabupaten Blitar ini empat mahasiswa dari Universitas Negeri Malang yaitu Septya Hananta Widyatama, Yusuf Aji Wicaksono, Rangga Ega Santoso, dan Fitri Ika Mardiyanti, dengan dosen pembimbing Drs Imam Sudjono, M.T. Memberikan solusi efektif juga cepat tanggap gempa bumi dengan PEASE (pendulum earthquake sensor) alat detektor getaran berbasis sistem pendulum sebagai solusi sistem peringatan dini datangnya gempa bumi.

Canggihnya, PEASE ini menggunakan double fungsi yakni ditambahnya fitur lampu sebagai mode penambah nilai guna alat tersebut. Dipilihnya lampu sebagai fitur tambahan  dikarenakan pada zaman modern seperti sekarang lampu bisa dikategorikan kebutuhan primer masyarakat.

Penggunaan dan perawatan PEASE yang begitu mudah membuat pengguna cukup mengecek kondisi alat selama 2 minggu sekali, listrik yang disedot pun sangat minim karena penggunaan dan penerapan sistem hybrid, hingga penggunaan speaker aktif dengan kekuatan  ± 90 dB sebagai media peringatan dini, yakni ketika gempa berlangsung maka dalam sekejap speaker akan berbunyi mengeluarkan suara sirine, dimaksudkan untuk kewaspadaan tahap awal juga metode pembangunan korban ketika gempa terjadi pada malam hari. Selanjutnya akan diteruskan suara persuasive sebagai media pemberitahuan bahwasannya telah terjadi gempa dan harus segera berlindung dan nantinya speaker akan berhenti setelah ± 25 detik berbunyi. Alat ini pun dirancang hanya akan berfungsi jika kekuatan gempa  4 SR keatas, karena digolongkan gempa berbahaya dan mampu merobohkan sebuah gedung.

Dengan PEASE ini tim dari Universitas Negeri Malang akan berlaga pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30 di Universitas Islam Makassar pada tanggal 23 – 28 Agustus 2017. Di ajang ini pun tim membawa pesan tersirat bahwasannya sudah saatnya para mahasiswa bergerak aktif menanggulangi masalah di Indonesia dengan pemanfaatan teknologi modern. Karena sejatinya prestasi itu bukan ketika kita lebih baik dari yang lain, melainkan ketika kita lebih bermanfaat dari yang lain.

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wow, Dara Muda Ini diNobatkan Menjadi Mahasiswa Termuda Universitas Gadjah Mada

Menjadi berprestasi sudah menjadi hal yang wajar, namun menjadi berbeda adalah sebuah pilihan yang tidak banyak orang bisa merasakan

Close