Dispenser dan Timbangan Berbicara Bagi Penyandang Tunanetra Buatan Mahasiswa UPI Bandung

Infokampus.news  Tujuh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jawa Barat berhasil menciptakan inovasi Dispenser Berbicara dan Timbangan Berbicara, untuk penyandang tunanetra.

Tergabung dalam organisasi unit kegiatan mahasiswa (UKM) Kompor UPI (Komunitas Mahasiswa Penggemar Otomasi dan Robitika Universitas Pendidikan Indonesia). Bahha Hamzah sebagai Ketua Kompor UPI, mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2015, Wahyudin, Mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2017, Arief Khairi Teknik Elektro 2017.

Selain itu ada Abdul Hannan Pendidikan Teknik Mesin 2017, Hadrian Javas Teknik Sipil 2015, Ibnu Hanifah Alem Teknik Elektro 2017, dan Ikhyasul Kuspriza Pendidikan Teknik Mesin 2017. Kedua alat tersebut mereka ciptakan sebagai hasil inovasi Pangabdian kepada Masyarakat (PKM).

Sebelumnya, mereka mengumpulkan berbagai informasi tentang apa saja kebutuhan para penyandang tunanetra. Terutama yang terkait dengan kegiatan sehari-hari mereka. Mereka pun terjun langsung melihat aktivitas penyandang tunanetra di SLB Negeri A Kota Bandung.

”Kami memang bertekad bisa menghasilkan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelas Bahha, seperti dilansir dari website resmi UPI, Rabu (17/4/2019).

Baca Juga :  Ikut Seleksi Mandiri di UI, ITB atau di UGM? Ini Biaya yang Harus Kamu Bayarkan

Wahyudin, satu di antara anggota tim produksi lalu menambahkan, para penyandang tunanetra kesulitan menakar air. Mereka hanya mengandalkan insting dalam menentukan takaran air untuk minum.

“Semisal membuat susu, kopi, dan teh. Bahkan juga untuk memasak,” terangnya.

Sehingga, mereka membutuhkan sebuah alat yang bisa dipakai untuk melakukan rutinitas memasak, membuat kue, dan menanak nasi.  Oleh karena itu, Kompor UPI menciptakan timbangan dan dispenser yang dapat berbicara untuk membantu aktivitas penyandang tunanetra. Butuh waktu satu bulan untuk memproduksi kedua alat inovasi dispenser berbicara dan timbangan berbicara.

Bahha kembali menjelaskan, proses pembuatan yang memangkas waktu lama adalah tahap riset satu bulan. ”Paling sulit dalam pembuatan dalam tahap riset. Total satu bulan dua minggu,” ungkapnya.

Dia pun secara jujur mengatakan, kalau dana awal produksi berasal dari patungan mereka sendiri. Untuk biaya produksi dispenser berbicara menghabiskan kisaran dana Rp 700 ribu. Sedangkan timbangan Rp 300 ribu. Jika diproduksi lebih banyak akan lebih murah.

Mempunyai enam tombol takaran air, tiga untuk air panas dan tiga lainnya untuk air dingin. Masing-masing tombol mempunyai fungsi.

Baca Juga :  Unggul Dalam Software Engineering dan Business Intelligence, UWG Optimis Raih Akreditasi Terbaik

Tombol pertama untuk ukuran 50 ml, tombol kedua untuk 100 ml, dan tombol ketiga untuk 250 ml air. Tiga tombol yang berada di sisi kanan merupakan ukuran untuk air dingin dan tombol di sisi kiri untuk air panas.

Dispenser berbicara ini mengeluarkan indikator suara ketika dinyalakan dan ketika menekan tombol ukuran air  Sehingga penyandang tuna netra dapat mengetahui berapa ukuran air yang telah keluar dari dispenser berbicara ini.

Sementara itu, satu di antara Pembimbing Kompor UPI Wawan Purnama mengapresiasi dan bangga atas inovasi yang ciptakan oleh mahasiswanya itu. “Sebagai pembimbing, saya pribadi serta para pembimbing lainnya oleh Kompor UPI ini sering dikejutkan,” ujarnya.

Dua benda ini telah diuji coba di SLB Negeri A Kota Bandung untuk mengetes performa dari alat tersebut. Responnya pun positif. Rencananya, hasil inovasi ini akan diabdikan dan dihibahkan ke SLB yang membutuhkan. Sebagai perwujudan dari tridharma perguruan tinggi. (Jul)

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *