Dorong Integrasi Antara Teknologi dan Pertanian, Mahasiswa UNPAD Ini Rancang “Onion Monitoring”

Infokampus.news –  Saat ini Indonesia sebagai negara agraris, bidang pertanian Indonesia sudah seharusnya mulai didukung dengan perangkat teknologi. Integrasi pertanian dan teknologi dinilai tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas, namun dapat pula menjadi kunci peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia. Atas permasalahn yang dihadapi tersebut, Sekelompok mahasiswa program studi Teknik Informatika Universitas Padjadjaran (UNPAD) menjadi penggerak integrasi pertanian dengan perangkat teknologi. Adalah Dimas Fadli Nugraha, Ferina Dewi Andreina, dan Aini Novianty Mahasiswa UNPAD yang mengembangkan prototipe teknologi pengendalian tanaman bertajuk “Onion Monitoring”.

Teknologi ini dikembangkan guna membantu kinerja petani bawang merah dalam memonitor aktivitas ladang. Teknologi ini merupakan modifikasi dari model teknologi monitoring pertanian yang lazim digunakan di mancanegara.

“Simpelnya pertanian di kita masih menganut sistem buka lahan sebesar-besarnya, sedangkan di negara lain sudah memanfaatkan pertanian presisi. Petani memanfaatkan teknologi untuk melihat bagaimana keadaan riil tanaman, tanah, cuaca, hingga bisa menjaga tanaman agar tidak terjadi gagal panen,” ungkap Dimas seperti dilansir dalam laman UNPAD.

Begini Cara Kerja Teknolog Onion Monitoring karya Mahasiswa UNPAD

Teknologi ini sendiri mempunyai dua sistem utama yang saling bertautan. Sistem pertama merupakan sistem yang bertugas mengambil data di lapangan. Sistem ini dipasang di area pertanian dan terdiri dari komponen mikro kontroler arduino, sensor-sensor, serta solar panel sebagai sumber energinya. Tugasnya untuk mengambil data kelembapan tanah, cuaca, dan temperatur. Setelah merekam data, sistem ini kemudian menyalurkan data ke sistem pusat yang terpisah dari sistem di lapangan. Sistem ini bertugas mengurus data, mengumpulkan data, hingga mengolah data guna dihasilkan kondisi rata-rata dan apa yang dibutuhkan di lapangan.

Data di sistem pusat kemudian dikirim ke server melalui jaringan internet. Dimas mengatakan, koneksi internet di sistem pusat bisa disambungkan melalui kabel LAN, wi-fi, atau menggunakan GSM Shield (mobile internet). Server di sini merupakan peranti aplikasi yang terpasang di gawai petani. Melalui telepon selulernya, petani dapat mengetahui kondisi lahan pertaniannya tanpa perlu memonitor langsung ke lapangan.

Selain berfungsi menampilkan kondisi lahan, petani juga dapat melakukan tindakan seperti menyiram tanaman, memberi pupuk, atau menyemprotkan pestisida lewat aplikasi tersebut. Nantinya, aplikasi akan mengirim perintah ke sistem pusat untuk kemudian diteruskan ke sensor yang ada di lahan. Target selanjutnya, aplikasi yang dinamai “Smart Farm” ini berfungsi bukan hanya memberikan data dan mengambil tindakan, tetapi memiliki forum komunikasi dengan pengguna aplikasi lainnya.

Onion Monitoring Diakui Dapat Mendukung Aktivitas Para Petani

Meski mengadaptasi teknologi yang telah berkembang di luar negeri, ada keunggulan lain yang dihasilkan dari prototipe ini. Jika teknologi yang ada menggunakan kabel untuk menghubungkan dua sistem, maka prototipe ini benar-benar bersifat wireless. Prototipe ini dikembangkan para Mahasiswa UNPAD ini sejak November 2016. Dalam penelitiannya, mereka dibantu oleh staf pengajar prodi Teknologi Informasi. Bahkan, mereka juga mendapatkan masukan dari para dosen di Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad.

Berkat prototipe ini, Dimas, Ferina, dan Aini pernah meraih juara ketiga di ajang “Unnovation Tech Development Challenge” yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung, Desember 2016. Walapun terbilang prototipe, Dimas dan kawan-kawan ingin terus mengembangkan teknologi ini. Sebab, teknologi ini sangat bermanfaat untuk mendukung aktivitas petani. Hal ini pun dibenarkan Aini. Menurutnya, sudah saatnya teknologi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Penyebaran teknologi harus didukung, bukan jadi suatu kesenjangan.

“Indonesia harus lebih melek dengan teknologi, kita harus berpikir perspektif jangka panjang, dan segalanya harus menggunakan teknologi,” kata Aini. (uch)

 

 

Sumber : HUMAS UNPAD

 

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rektor UNIDHA, ‘Harusnya UU Yang Mengatur DPR dan MPR Berbeda, Tidak Jadi Satu Seperti Sekarang’

Harusnya UU yang mengatur DPR dan MPR dibedakan sesuai dengan lingkupnya masing-masing. Hal ini diungkapkan oleh Wakil

Close