Dosen Fisika Kembangkan Alat Deteksi Jantung Fiber Optik

Infokampus.news – Di sela-sela kesibukannya sebagai kepala departemen sekaligus koordinator program studi S-1 Fisika, Prof. Dr. M. Yasin, M.Si., menyempatkan sebagian besar waktunya untuk melakukan penelitian dan publikasi. Buktinya, Yasin memperoleh penghargaan sebagai dosen dengan jumlah publikasi penelitian terbanyak di Universitas Airlangga. M Yasin mengembangkan alat pendeteksi sakit jantung dengan fiber optik. Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal Optik Optics pertengahan Januari 2017.

Dalam jurnal tersebut, Yasin berkolaborasi dengan dua peneliti Unair lainnya, Retna Apsari dan Yhosep Gita Yhun Yuwana. Yasin menjelaskan, metode yang dikembangkan tersebut deteksi aktivitas listrik yang dihasilkan jantung dengan menggunakan sinar laser dan sensor fiber optik. Fiber optik ini berfungsi untuk merambatkan cahaya laser. Fiber optik dipasangi sebuah instrumen bernama bundle probe yang memang digunakan untuk memeriksa luka atau bagian tubuh. Instrumen tersebut diarahkan ke objek yang dilapisi kaca.

Baca Juga :  Resmi Ditutup, Ini Jumlah Pendaftar SNMPTN UM 2017!

Saat praktikum, Yasin dan tim memanfaatkan pengeras suara untuk mengganti detak jantung asli. Proses kerjanya, sinar laser ditransmisikan melalui serat ke arah pengeras suara yang diatur dengan penguat sinyal audio. Sinyal dari pengeras suara dipantulkan melalui kaca dan diterima oleh fiber. Sinyal suara tersebut dikonversi menjadi sinyal listrik. Hasil deteksi aktivitas listrik dilihat melalui osiloskop.

“Objek benda ditembak dan ditampilkan di osiloskop. Ini bisa juga dimanfaatkan untuk endoskopi organ. Fiber itu seperti kabel yang merambatkan cahaya. Fiber ini bergelombang bila kena gelombang suara. Nah, perubahan itu yang dideteksi dan kita ukur,” ujar dia, dilansir dari laman UNAIR (5/3/2017).

Dalam memeriksa detak jantung pasien, biasanya tenaga medis menggunakan alat bernama elektrocardiogram (ECG). Dengan metode yang sedang dikembangkan timnya, tubuh pasien tak perlu dipasangi peralatan karena cukup ditembak dengan sinar laser. Keunggulan lainnya, hasil aktivitas listrik yang diukur lebih presisi. Tingkat ketelitiannya sama dengan panjang gelombang cahaya dengan satuan nanometer.

Baca Juga :  Strategi Meraih Beasiswa Djarum Foundation Melalui “ Catur Pitutur, Empat Nasihat Untuk Generasi Emas “

Saat ini, Yasin dan tim terus berupaya memantapkan penelitian tersebut. Di penelitian lanjutan, ia akan mengoptimasi sistem sensor sinyal dengan metode microbending atau lengkungan.

“Jadi, fiber itu kan lurus. Kalau ditekan kan melengkung. Lengkungan itu akan mengakibatkan perubahan intensitas cahaya. Perubahan itulah nanti yang akan diteliti lebih detail. Apakah detak jantung akan seirama dengan pergeseran fiber itu. Baru setelah itu bisa diterapkan pada manusia,” kata dia,

Pada awal Febaruari 2017, Yasin memperoleh penghargaan sebagai dosen dengan jumlah publikasi penelitian terbanyak di Universitas Airlangga. Sepanjang tahun 2016, ia mempublikasikan 16 penelitiannya. Yasin mempublikasikan penelitiannya di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus. (FAM)

Baca Juga :  Kurangnya Sosialisasi Untuk Pemilihan Calon Direktur

 

Sumber: UNAIR

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan / Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Asyiknya Nongkrong dan Berkreasi di Gazebo FILKOM

Bagi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) pastinya banyak yang sudah mengenal Gazebo FILKOM sebagai salah satu tempat untuk berkreasi.

Close