Dosen Komunikasi Politik UB: Sebar Hoax di media sosial, ibarat Jemput Ajal Dengan Cepat!

Infokampus.news – Fenomena yang sedang viral beberapa hari ini di tengah perpolitikan Indonesia tengah menjadi sorotan publik. Alih-alih kebohongan informasi atau hoaks kini menjadi senjata baru untuk perang politik Indonesia.

Salah satu Dosen Komunikasi Politik Universitas Brawijaya (UB) angkat bicara mengenai hal ini, Abdul Wahid mengatakan fenomena Ratna Sarumpaet ini seperti generasi tua yang masih yakin bahwa kebohongan akan sulit diungkap, karena dia dekat dan ada di lingkangan elit partai.

Ratna seakan lupa di era millenial sekarang, saat dia jadi pengguna media sosial, suka tidak suka, dia telah meninggalkan jejak digital yang dapat diakses siapapun, kapanpun dan oleh siapapun.

“usai kebohongannya tidak sejalan dengan waktu yang diandaikan oleh teknologi, terutama di sosial media. Bohong di media sosial, dengan demikian ibarat akan menemui ajalnya secara cepat,” ujar Wahid.

Beliau menambahkan saat ini setiap individu dapat menilai fenomena, argumen, pernyataan dan apapun yang dinyatakan tanpa data sebagai kebohongan. Contohnya saja pada tweet Tompi dan Fadli Zon dan Fahri adalah contoh bagus bagaimana kebohongan dengan mudah bisa dilacak.

Dalam konteks gerakan, yang dilakukan Ratna merupakan gejala rapuhnya gerakan di Indonesia. Bahkan, bisa menambah kekecewaan para penggerak feminisme yang telah lama membangun kesadaran gender sejak lama seperti Rifka Annisa di Jogja.

Sebagai salah satu aktivis feminis senior di Indonesia, Wahid menyebutkan kasus Ratna ini menjadi apresasi tersendiri bagi duet Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Sebab tanpa mengucap sekata pun, ribuan pujian didapatkan keduanya yang turut serta membantu warga Palu dan korban gempa lain.

“Di saat bersamaan, Prabowo – Sandi dapat pukulan telak bukan hanya dari lawan politiknya, tapi juga tinju Ratna yang mengarah balik ke muka Prabowo,” Jelasnya.

Para elit pendukung Prabowo sebelumnya dengan lantang membela dan mengatakan kasus Ratna sebagai kekerasan yang keji, yang ternyata hoaks ini mengandung dua pesan yang saling bertolak belakang dalam demokrasi.

“Hoaks Ratna adalah pesan gagalnya demokrasi, sekaligus kemenangan bagi masyarakat yang secara mudah dan terbuka dapat melacak dan membuktikan kebenaran lewat teknologi media sosial”.

Dosen Komunikasi Universitas Brawijaya ini juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah menerima informasi di media dan terlus melakukan verifikasi informasi. Sebab, semua informasi yang tengah beredar di internet terutama, ada yang benar dan ada yang hoax. (Jul)

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Tepis Hoax, 1.222 Calon Wisudawan UNIKAMA Berstatus Sah!

Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) Dr. Pieter Sahertian, M.Si., menepis tuduhan PLT PPLP-PT PGRI, Drs. Selamet Riyadi, MM. atas tidak...

Close