Peternak Sampaikan Keluhan Lewat FGD di UB

Infokampus.newsBeberapa waktu yang lalu, harga ayam dari peternak turun mencapai titik terendah hingga angka 6.500 rupiah. Di beberapa tempat bahkan peternak melakukan aksi bagi-bagi ayam gratis pada warga sebagai bentuk protes. Hingga kini, harga ayam dari peternak belum stabil.

Menanggapi hal itu, Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya (UB) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) di ruang rapat gedung Fapet UB, Senin (23/9). FGD ini menghadirkan para stakeholders, di antaranya peternak dari Malang, Kediri, dan Blitar, akademisi di lingkungan Fapet UB, serta Dinas Peternakan.

Salah satu dosen yang turut dalam FGD ialah Dr Siti Azizah SPt MSos MCommun. “Peternak mengalami banyak kerugian. Ini berdampak pada konsumen yang merasakan harga yang semakin tinggi. FGD ini diharapkan menjadi wadah agar Fapet UB bisa mendengarkan langsung dari peternak dan semua stakeholder,” ujar pakar sosiologi ekonomi peternakan Fapet UB ini.

Peternak Sampaikan Keluhan dan Masukan 

Masukan yang banyak disampaikan oleh peternak ialah terkait political will atau kebijakan pemerintah. Sejauh mana keberpihakan pemerintah terhadap peternak atau impor terhadap pihak asing. Menurut Azizah, ada satu solusi yang paling dibutuhkan saat ini oleh peternak.

“Yaitu adanya gabungan semacam koperasi yang terdiri dari para peternak,” sarannya.

Sejauh ini, gabungan peternak belum bisa menggambarkan kebutuhan dan keinginan para peternak kecil. Sehingga, inisiasi kelompok gabungan peternak yang bisa memfasilitasi kebutuhan mereka adalah kebutuhan paling utama saat ini.

Asosiasi  atau gabungan peternak ini, kata Azizah harus dibentuk dari bawah. “Dibentuk oleh pemerintah atau pihak industri. Memang sudah ada perkumpulan seperti itu, tapi tidak mewakili suara peternak kecil,” ujarnya.

Fapet UB akan banyak memberi sumbangsih pada pemerintah melalui penelitian tentang kebijakan. Hal tersebut merupakan bentuk pengabdian masyarakat dan penelitian yang dilakukan akademisi sesuai kebutuhan dan keinginan para stakeholders.

Salah satu peternak asal Kediri, Larmoto menyampaikan beberapa hal yang menjadi keluhan umum peternak. Ia menjelaskan harga ayam broiler mengalami problem yang sangat rumit di antaranya karena pasokan day old chicken (DOC) atau ayam di bawah usia 10 hari mengalami permintaan tinggi.

“Supply and demand-nya tidak imbang. Mau tak mau, dengan over supply, produksi yang dihasilkan banyak tetapi kebutuhan relatif tetap,” papar pria yang mulai beternak sejak 2002.

Pasar tradisional sebagai pasar terbesar juga menjadi faktor terbesar. Untuk menjaga kelebihan produksi, mestinya pasar memiliki rumah potong ayam dan cold storage sebagai tempat penyimpanan ketika harga tinggi.

“Peran pasar tradisional memegang peranan penting. Siapa yang kuat modalnya, itulah yang masih akan bertahan,” ujarnya.

Berbagai masukan dari praktisi ini akan menjadi solusi. Di akhir sesi FGD, akan ada kesempatan untuk para stakeholder menyampaikan keinginan dari ilmuwan. “Sehingga akan benar-benar sesuai kebutuhan. Ini yang akan kami rekomendasikan pada pemerintah,” pungkas Azizah. (ich)

Baca Juga :  Agroekoteknologi UB Punya Kuota Terbanyak di SNMPTN 2021, Ini Ulasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *