Hadir Dalam acara Dies Natalis FIB UB, Ini Pendapat Cak Nun Tentang Keberagaman Indonesia

Infokampus.news, Malang – Soal keberagaman atau biasa disebut multikulturalisme, Indonesia menjadi negara yang paling damai di dunia. Karena, Indonesia sendiri menjadi negara yang kaya akan budaya dan tetap berdiri kokoh dari zaman dahulu kala sampai saat ini. Hal tersebut diungkapkan oleh Emha Ainun Nadjib atau biasa dipanggil Cak Nun dalam kegiatan Sinau Bareng Cak Nun & Kiai Kanjeng yang digelar dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB).

Bukan Masyarakat Yang Krisis Keberagaman, Namun Pemimpin dan Politisi 

Berbicara di Kegiatan Dies Natalis FIB UB, Cak Nun mengakui Saat ini seluruh masyarakat sangat memerlukan adanya manajemen multikulturalisme. Dalam menjelajahi manajemen multikultural tersebut, Cak Nun pun membawakan beberapa contoh-contoh bentuk persatuan yang selama ini sudah mendarah daging dalam masyarakat Indonesia. Beberapa bentuk tarian, lagu, dan permainan tradisional dipraktekan oleh Cak Nun & Kyai Kanjeng dihadapan para Jamaah yang memadati Kegiatan Dies Natalis FIB UB di Samantha Krida.

Menurutnya, Saat ini isu ketidak beragaman justru bukan berada dalam masyarakat, Namun jutru dicontohkan oleh para pemangku kuasa dan eli-elit negara. Diungkapkan Cak Nun, Masyarakat dari zaman dahulu tidak pernah mempersalahkan perbedaan yang ada di masyarakat, Justru sejak zaman dahulu para pemimpinlah yang tidak bisa mencontohkan keberagaman dengan tidak pernah menunjukan iklim persatuan.

“Isu multikultural malah di timpakan pada rakyat. Padahal yang tidak pernah bersatu yan pemimpin-pemimpin itu. lihat saja banyak partai politik yang jumlahnya banyak, itu kan artinya para politisi tidak pernah sejalan. Sesungguhnya, pusat keberagaman bukan pada rakyatnya, namun lebih ke pada pemimpin yang tidak menunjukan persatuan,” Ungkapnya.

Hadir di Dies Natalis FIB UB, Cak Nun : Indonesia Jangan Ikut Menjadi Bodoh

Lebih lanjut, Cak Nun juga memaparkan bahwa jangan sampai Indonesia mau ikut-ikutan dibodohi dunia.Dirinya mencontohkan dari kata-kata yang selama ini banyak masyarakat yang salah kaprah mengartikannya. Kata-kata yang sengaja digunakan untuk menyudutkan suatu kelompok tertentu.

Kata Radikalisme, misalnya. Selama ini, radikalisme itu di arahkan ke sesuatu yang tidak baik. Padahal, Makna dari radikalisme itu sendiri adalah keras. Justru menurut Cak nun Radikalisme itu penting, Namun bila pada tempatnya. Dirinya pun mencontohkan pada beberapa kasus yang sering di temu dalam masyarakat. Berpuasa contohnya.

“Berpuasa itu contohnya, kalian kalau berpuasa pastilah keras terhadap diri sendiri, Keras untuk tidak makan minum, keras dalam menahan hawa nafsu. itu contoh bahwa radikal itu perlu dalam diri sendiri .Keras itu boleh. Yang tidak boleh itu kekejaman. Baik keras maupun lembut, semua sama-sama kita butuhkan pada tempat yang tepat. Jadi, jangan mudah tertipu politik-politik yang membodohkan tersebut,” Ungkapnya.

Selain itu, selama ini kita sama-sama harulah terlebih duu mengenal keberagaman ssebelum kita membicarakannya. Dirinya pun mengajak masyarakat untuk menyicil untuk mengena keberagaman mealui berbagai macam hal seperti komponis-komponis di Indonesia, Lagu daerah, Budaya daeran dan lain sebagainya. Dan yang terpenting Pemimpin negara harus memastikan bahwa output pancasila sila ke-5 yaitu keadilan sosial bagi eluruh rakyat Indoensia bisa dinikmati seluruh masyarakat. (uch)

 

 

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lebihi Target Jumlah Penelitian Nasional 2017, Sayang Dana Penelitian PT Klaster Mandiri Dipangkas Hingga 55 Milyar

Dana penelitian PT klaster mandiri dipangkas hingga 55 milyar di tahun 2017. Hal ini merupakan imbas dari IMPRES No. 4...

Close