Hadiri Kegiatan Indonesia Berdialog, Ini Materi Yang Disampaikan Direktur Utama PT Pos Indonesia

Infokampus.news, Malang – Penyelenggaraan kegiatan Indonesia Berdialog 2017 yang di inisiasi oleh Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekoomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (BEM FEB UMM), hari ini (16/3) telah memasuki hari terakhir penyelenggaraannya. Pada hari terakhir penyelenggaraan kegiatan  ini, Beberapa nama kondang masih menghiasi jajaran pemateri pada kegiatan ini. Hari ini, pemateri ahli diisi oleh Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono, serta Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia III, U. Saefudin Noer.

Direktur Utama PT Pos Indonesia : Mahasiswa Harus Pahami Permasalahan Indonesia dari Sekarang

Dalam kegiatan yang diselenggarakan di Theater Dome UMM ini, Gilarsi Wahyu Setijono sebagai pemateri pertama mengingatkan para mahasiswa yang hadir sebagai peserta dalam kegiatan dialog tersebut untuk melihat dan mencari solusi dari permasalahan yang ada di Indonesia saat ini. menurutnya, yang paling mudah untuk diamati adalah tidak meratanya pembangunan yang ada di Indonesia. dirinya mencontohkan ketimpangan terhadap harga satu sak semen di pulau jawa dan di pulau papua yang sangat berbeda jauh.

“Di Jawa satu sak semen itu hanya dikisaran harga Rp. 6o.ooo sampai Rp. 70.000, kalau di papua khususnya wlayah pegunungan seperti Timika sana Harganya bisa sampai di angka Rp. 2.000.000. ini kan yang harus dicarikan solusinya agar pembangunan di Indonesia itu merata,” Ungkapnya.

Biaya Distribusi Logistik Mahal, Berimbas Pada Harga Suatu Produk

Dirinya mengungkapkan, alasan terjadinya perbedaan harga tersebut ada di ranah logistiknya. menurutnya, biaya distribusi logistik tidak efisien disebabkan karena adanya perbedaan muatan saat kapal berangkat dari satu pelabuhan dan saat kapal tersebut kembali lagi ke pelabuhan asal. irinya mencontohkan masalah tersebut dengan kasus perbedaan muatan rute kapal surabaya-sorong.

“Misal kapal tersebut berangkat dari surabaya, muatannya full dan jenis kapalnya juga besar kemuian berangkatlah ke pelabuhan di sorong. namun ketika kapal itu kembali dari sorong, disana mereka tidak mengangkut muatan apa-apa, nah ini yang menimbulkan masalah. tidak ada kesamaan muatan dari satu pelabuhanke pelabuhan lain yang menyebabkan pembiayaan distribusi juga tidak efisien. kemudan berimbas pada pematokan harga di daerah tujuan distribusi, karena pembiayaan distribusi terkadang memakan biaya yang mahal,” Ungkapnya

Perekonomian Berbasis Kearifan Lokal Harus Dimunculkan

Untuk itu, Menurut Pria lulusan ITB ini, Indonesia saat ini harus mengkaji perekonomian yang berbasis kearifan lokal masing-masing daerah. diungkapkannya, saat ini ekonomi yang  berbasi kearifan lokal tidak dilirik sama sekali, padaha dengan adanya suatu trademark produk masing-masing daerah, hal tersebut bisa menjadi solusi agar efisienitas distribusi logistik tadi bisa berjalan dengan baik.

“Kearifan lokal harus lebih dilirik lagi bidang ekonominya. saat ini kearifan lokal tidak ditumbuh kembangkan dan cenderung tiap daerah digeneralisasikan. Papua yang punya kearifan lokal memakan sagu, justru seperti dipaksa untuk memakan nasi. padahal daerahnya tidak bisa cocok untuk pertanian, akibatnya ya harus mengandalkan distribusi di daerah lain yang imbasnya tentu terjadi kenaikan harga. jadinya bila salah stau daerah mempunyai produk kearifan lokal, tentunya juga akan terjadi distribusi yang bersifat timbal balik antara satu daerah dengan daerah lain,” Ungkapnya. (uch)

 

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spesifikasi Baru, Mobil Hemat ITS Optimis Juara

Tim Sapuangin ITS memperkenalkan mobil hemat energi generasi 11 ini telah mengalami sejumlah penyempurnaan dari generasi pendahulunya.

Close