Ini Cara Jerman Kembangkan Pendidikan Vokasi

Presiden RI Joko Widodo menyambangi Pusat Pelatihan Pendidikan Vokasi Profesional di Siemenstadt, beberapa waktu lalu. Di sana, Jokowi mendapat penjelasan tentang cara Jerman mengembangkan pendidikan vokasi.

Direktur Senior Pusat Pelatihan Pendidikan Vokal Profesional Thomas Leubner menjelaskan, pengembangan pendidikan kejuruan di negaranya memiliki beberapa prinsip. Pertama adalah kerjasama pemerintah dengan industri. Dalam hal ini, pemerintah dan industri bertanggung jawab menyusun dan mendesain kerangka pendidikan kejuruan dan pelatihan.

“Kementerian Ekonomi dan Energi Federal bersama dengan Pemenerintah Negara Bagian (Bundeslaender) Jerman mengorganisasikan kerangka pengembangan pelatihan dan peraturan-peraturan yang diperlukan untuk pelaksanaan pelatihan kejuruan dalam suatu kerangka kerja. Kontrol terhadap jalannya pelatihan didelegasikan dari pemerintah kepada suatu lembaga yang disebut Industrie- und Handelskammer (Kamar Dagang dan Industri Jerman),” ujar Leubner.

Prinsip kedua, imbuhnya, adalah tentang penerapan standar nasional. Leubner mengklaim, kualitas pendidikan sekolah kejuruan terjamin dengan diterapkannya standar pendidikan dan dipatuhi secara nasional sebagai acuan proses.

Prinsip ketiga berkaitan dengan kualifikasi tenaga pendidikan kejuruan. Menurut Leubner, para tenaga pendidik kejuruan harus menguasai dan memahami konsep Pedagogik Kejuruan (Berufspädagogik). “Pedagogik (Berufspädagogik) di Jerman bukan hanya suatu konsep yang dimiliki oleh dunia pendidikan, akan tetapi tetapi dunia industri juga senantiasa menggunakan dan mengembangkan konsep pedagogik,” tambahnya.

Prinsip keempat adalah ketersediaan institusi penelitian. Leubner menyebut, pendidikan kejuruan dan konsultasi karier Penelitian melibatkan pemerintah, pelaku ekonomi (dalam hal ini dunia usaha dan Industri) dan elemen sosial lainnya.

“Hasilnya mendorong pendidikan kejuruan tersebut untuk mengetahui apa yang sedang berkembang di dunia industri, dan agar kebutuhan dunia industri atau dunia usaha terhadap kompetensi lulusan pendidikan kejuruan dapat secara dini diidentifikasi,” papar Leubner.

Leubner juga menjelaskan sejarah Berlin-Siemensstadt. Pada 1897, karena keterbatasan lahan di Berlin, Siemens memutuskan untuk membangun kantor dan pabrik Siemens di pinggiran Berlin dengan membeli tanah seluas 200 hektar di Nonnenwiesen. Mulai 1914 area tersebut dinamakan Siemensstadt (Siemens City), dan pada 1930 pembangunan selesai. Per 30 Juni 2015, ada 12.681 penduduk di Siemensstadt.

Sementara itu, Siemens Professional Education menawarkan pendidikan kejuruan di seluruh Jerman (41 lokasi). Dengan peserta pelatihan berjumlah sekira 10 ribu orang dan investasi tahunan sejumlah 187 juta euro, Siemens merupakan salah satu penyelenggaran dual education terbesar di Jerman.

“Setiap tahunnya, Siemens menghasilkan sekira 2.000 lulusan yang sesuai dengan kebutuhan Industri,” tandas Leubner.

 

Sumber: Okezone.com

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Industri Jasa Memiliki Potensi Besar Terhadap Peningkatan Ekonomi Indonesia

Mantan Menteri Ekonomi dan Pariwisata Mari Elka Pangestu mengatakan bahwa industri jasa memiliki potensi besar untuk meningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia....

Close