Inkubator Bisnis Jadi Penghubung Riset Bioproduk dan Perusahaan

Perguruan tinggi merupakan penyokong riset inovatif. Tingginya kualitas sumber daya manusia di perguruan tinggi terbukti dari banyaknya riset yang lahir dari para akademisi kampus. Agar hasil riset itu dapat segera dihilirisasi, maka harus ada penghubung antara peneliti dan perusahaan. Pernyataan itu disampaikan oleh peneliti senior ‘Institute of Tropical Disease’ (ITD) Universitas Airlangga Dr. Widiyanti, drg., M.Kes.

Yanti, sapaan akrabnya, menyebutnya dengan istilah inkubator bisnis. Peran yang akan dimainkan oleh inkubator bisnis ini adalah menjembatani keinginan peneliti dan perusahaan. Selama ini, tak jarang setiap lembaga memiliki kepentingan sektoral masing-masing. Kepentingan sektoral yang dimaksud adalah para peneliti mengerjakan riset yang sudah direncanakan dalam payung penelitian dengan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan perusahaan ingin memasarkan produk dan meraih keuntungan yang besar.

“Inkubator bisnis itu bertugas untuk menegosiasikan keinginan kedua belah pihak. Misalnya kalau suatu bioproduk sudah diproduksi secara massal, berapa royalti yang akan didapatkan peneliti. Apa saja uji produk yang perlu dipersiapkan atau bagian apa yang harus dioptimalkan. Biasanya kami menyebut dengan translational research. Kadang-kadang malah diperlukan untuk melakukan penelitian lagi. Kalau sudah begitu, dananya dari mana. Inilah yang seharusnya dijalankan oleh inkubator bisnis itu,” tutur Yanti.

Perlunya dukungan

Yanti yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah (PPJPI) UNAIR ini mengatakan bahwa pemerintah perlu menunjukkan keberpihakan terhadap iklim riset di perguruan tinggi. Peneliti HIV/AIDS ITD UNAIR itu berharap agar dukungan berupa anggaran, fasilitas, dan kebijakan riset perlu ditambah.

“Terkait alokasi anggaran riset itu perlu ditambah. Tetapi kami tidak hanya memerlukan dukungan secara fisik saja, kami perlu keberpihakan. Pemerintah harus memberikan perhatian secara adil kepada seluruh komponen. Tidak hanya yang berada di lingkup pusat saja,” imbuh Ketua PPJPI UNAIR itu.

Yanti menyarankan agar pemerintah mengubah pola kebijakan yang tak berpihak kepada peneliti di Indonesia selama ini. Ia berharap agar pemerintah menentukanblock grant kepada pusat-pusat riset yang ditunjuk, sehingga dana yang turun bersifattop down.

“Penting adanya block grant pada pusat-pusat riset, sehingga dana turun secara top down. Misalnya ITD UNAIR diberi sejumlah dana untuk menghasilkan beberapa bioproduk. Selama ini, kita hanya berkompetisi, kita ajukan proposal riset ke nasional. Entah diterima atau tidak. Saya mengusulkan agar ada sistem yang terdiri dari komponen akademisi, bisnis, dan regulator untuk menentukan prioritas yang harus dikerjakan. Kalau sistem seperti itu dijalankan, maka riset dan bioproduk yang dihasilkan oleh peneliti di Indonesia akan segera berkembang. Perlu ada effort yang luar biasa agar kita bisa mandiri,” tutur Yanti. (FA)

 

Sumber: dikti.go.id

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Tingkat Kepadatan
Tingkat Kepadatan Kendaraan di UB menurun 20%

Sejak diberlakukan kebijakan wajib berstiker yang ditetapkan dibawah pimpinan Rektor Universitas Brawijaya, tingkat kepadatan lalu lintas UB sudah berkurang

Close