Jemblem Kutho, Modifikasi Jajanan Pasar Berkonsep Fusion Food Ala Mahasiswa Universitas Widyagama Malang

Infokampus.news, Malang – Sudah jarang kita temui anak – anak muda yang masih suka mengkonsumsi jajanan pasar, lebih banyak saat ini anak – anak yang mengkonsumsi makanan cepat saji. Mahasiswa Universitas Widyagama Malang (UWG) adalah salah satu anak dari era sekarang yang masih perduli terhadap jajanan pasar yang sudah mulai ditinggalkan.

Nur Akmal Ays mahasiswa Fakultas pertanian UWG sedang mengembangkan jemblem yang pada dasarnya adalah jajanan pasar menjadi makanan masa kini yang bahkan ramah dilidah orang asing.

Jika pada umumnya jemblem berbentuk bulat besar dan berisi gula merah didalamnya, Nur Akmal Ays mengembangkan jemblem menjadi ukuran yang lebih kecil dan memiliki 6 varian rasa.

“Saya ingin agar jemblem bisa diterima semua kalangan, ukurannya yang besar saya kembangkan menjadi lebih kecil dan ringan. Isiannya sendiri saya buat menjadi 6 varian rasa, ada kacang hijau, coklat, krim cheese, ayam opor dan ayam teriyaki, dan rasa gula merah (original),” jelasnya.

“Penamaan sendiri memakai jemblem kutho, karean konsep yang dipakai adalah fusion food. Diambil dari makanan jepang seperti takoyaki,” ungkapnya.

“Untuk produksi dibuat sendiri mulai dari resep sampai produksi jadi. Penelitian ini akan terus dikembangkan karena nantinya akan dialihkan ke orang lain, seperti bekerjasama dengan orang lain. Nanti akan ada yang bagian produksi dan kita hanya menambahkan,” paparnya.

Menurutnya penelitian ini dilakukan karena kegemarannya sendiri dengan jemblem, tapi karena bentuknya yang besar itu membuat kita menjadi mudah kenyang.

“Karena bentuknya yang besar kadang bikin mudah kenyang dan enek dan rasanya juga hanya gula merah saja, mungkin itu yang membuat orang menjadi mudah bosan,” ungkapnya.

Sejak awal tidak memiliki alternatif pilihan produk, memang sudah terfokus dengan produk jemblem itu sendiri.

“Masih produksi sendiri dan belum fix juga, kamis sedang mengembangkan resep final dan masuk ke packaging. Disurabaya sudah ada, tapi hasil inovasi dari gorengan dengan banyak topping,” paparnya.

Inovasi Dari Jajanan Pasar Yang Sudah Banyak Di Tinggalkan Konsumen

Penelitian ini sendiri dilakukannya selama 4 bulan, dari mulai pembuatan ide sampai mengajuan proposal di DIKTI.

“Kendala hanya pada pendanaan, karena belum turunnya dana dari DIKTI, tapi kami masih bisa mengatur pada pengadaan bahannya,” ungkapnya.

UWG sendiri sudah menjembatani melalui pra sarana yang dibutuhkan dan sampai pengajuan ke DIKTI.

“Mulai tempat, bahan dan dosen pembimbing sendiri sangat membantu. Banyak saran, masukan dan dana talangan dari pihak kampus,” paparnya.

Penelitian ini sendiri terkait dengan kegiatan PKMnya yang berjudul “Jemblem kutho javanese takoyaki, modifikasi jajanan pasar jemblem berkonsep fusion food” yang nantinya akan dibiayai oleh DIKTI.

“Jika dana cepat cair dan produknya lancar, kedepannya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain dari produksi makanan ringan ini,” ungkapnya mahasiswa semester 4 tersebut. (has)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Gebyar Pelangi Persembahan Dari FKIP Universitas Islam Malang

Kegiatan tahunan yang di adakan oleh FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA) dalam rangka memperingati dies natalis FKIP UNISMA yang ke-36

Close