Jenius! Timbangan Sapi Bawa Mahasiswa UB Sabet Medali Emas di Malaysia

Infokampus.news, Malang – 5 orang mahasiswa dan mahasiswi UB berhasil menyabet medali emas di ajang Malaysia Technology Expo 2017 yang digelar 16-18 Februari lalu dengan memamerkan produk timbangan sapi portable. Tidak hanya medali emas, mereka pun juga berhasil menarik perhatian wakil negara dari Taiwan dan mendapatkan Taiwan’s special award karena keunikan dan manfaat besar dari produk yang berhasil mereka temukan ini.

Alat yang mereka rancang ini bernama Electric Conductive Canon Weigher atau sering mereka singkat dengan ELCO yaitu alat penimbang portable untuk menimbang bobot sapi secara efisien.

“Memang dari awal kita datang itu banyak yang takjub gitu sama karya kita termasuk salah satu dewan juri karena belum ada yang seperti ini, yang ada timbangan besar berat dan harganya mahal itu,” tukas mereka pada tim infokampus.news.

Kelompok yang terdiri dari Gusti Ayu Putu Marleni, Riko Andianto, Joni Hendro, Angga setiawan dan Ryan Ramaputra ini mengaku mendapat ide dari survey lapang yang mereka lakukan.

“Awalnya studi kasus dulu, lalu kita menemukan di lapangan bahwa ini timbangan ini salah satu masalah yang bisa diperbaiki, timbangannya itu berat dan mahal. Cuma peternak yang skala besar saja yang bisa punya diatas 5000 ekor karena harganya 12 juta, padahal kebanyakan kan peternak Indonesia skala rumah,” tutur Gusti.

Ia menambahkan dengan ketidaktahuan peternak rumahan akan berat dari sapi yang mereka miliki, kebanyakan masyarakat peternak kecil sering ditipu oleh blantik atau makelar sapi yang sering mencurangi harga dari berat sapi yang mereka miliki.

Masih Berhutang Agar Mampu Melaju ke Malaysia

Cara kerja alat ini sendiri sangatlah mudah, pemilik ternak hanya perlu melingkarkan karbon yang berbentuk seperti alat ukur yang lentur pada alat tersebut. Lalu karbon tersebut akan dibaca oleh sensor khusus dan nampaklah lingkar dada dan berat badan si sapi ternak.

“Prinsipnya pakai karbon resistif yang digunakan membaca semua sensor komponen pada elco tersebut. Setelah dipasang melingkar di dada sapi nanti sensor akan baca itu, lalu ditampilkan lingkar dada sama bobot ternak di monitornya,” ujar Riko.

Ditemui seusai kuliah, mereka bercerita meskipun total pembuatan prototype ini sendiri hanya senilai 2 juta rupiah, namun untuk melaju berlomba di kancah Internasional tepatnya di Kuala Lumpur Malaysia mereka membutuhkan dana yang cukup besar.

“Sebenarnya bukan lomba ini yang ingin kita ikuti, tapi karena ini yang total biayanya paling murah jadi kita ambil. Total 15 juta smuanya, itupun hanya dua orang yang berangkat dan kami masih berhutang ke teman. Plus tabungan kami ludes,” ceritanya saat menceritakan suka dukanya dalam mengikuti kompetisi ini.

Mereka mengaku masih banyak yang perlu diperbaiki dari alat ini, namun yang lebih utama mereka harapkan semoga dana penghargaan dari kampus UB segera cair dan ada investor yang berkenan untuk mengembangkan penemuan yang mereka miliki ini. (Pus)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan / Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menteri Susi : Menjadi Nelayan Makin Tak Diminati

Menteri Susi menyoroti turunnya minat masyarakat Indonesia untuk berprofesi sebagai Nelayan dikarenakan Sumber Daya Ikan Menipis

Close