Kamu Perlu Tahu! Negara ini Bikin Kamu Tidak Kelaparan saat Ramadhan

Infokampus.news – Dalam hadis dikatakan bahwa Rasulullah SAW merupakan ornag yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi ketika masuk di bulan suci Ramadhan. sama halnya dengan Afrika, di Sudan warganya tidak akan kelaparan selama Ramadhan. kok bisa?

Berpuasa dengan suhu rata-rata 42 derajat celcius, bumi yang gersang, hangat ditambah lagi masyarakat setempat menyebut es teh sebagai suatu hal yang mustahil. tetapi dibalik itu semua, ada keberkahan tersendiri. ada sebuah hal yang membuat Ramadhan begitu dicintai di Negeri itu.

Pengalaman berpuasa di benua Afrika begitu menarik. mayoritas negara di Afrika berpenghuni pemeluk agama Islam. hal itu membuat kedatangan Ramadha sangatlah mereka tunggu.

Sudan merupakan salah satu Negara besar yang terletak di benua Afrika bagian utara. Sudan berbatasan langsung dengan Chad, Mesir, Eritrea, dan Ethiopia. sudan menjadi negara terbesar ke empat di Afirka dengan jumlah penduduk sekitar 38,5 juta jiwa, yang mana mayoritas penduduknya memeluk agama islam.

Di seluruh penjuru Sduan, semua orang berbondong-bondong untuk memberikan iftar kepada semua yang berpuasa. ini budaya dari tahun ke tahun, budaya yang luar biasa, bertajuk kedermawanan terhadap sesama.

Baca Juga :  Angkat Kisah Nyata, Cokelat Band Ambil Tema “Bisa Tidak Bisa Harus Bisa" di Vidio Klip Terbarunya

Budaya berbuka puasa di Sudan adalah semua orang berbuka di luar rumah, beralaskan tikar yang tak terlalu besar. Pemandangan ini bisa dilihat di area terbuka di dekat Masjid Mujamma Al Islami atau Masjid Al Noor di Khartoum. Misalnya, lima keluarga yang tinggal berdekatan bersatu untuk berbuka di depan salah satu rumah di antara mereka. Rumah pertama yang menyediakan makanan pokok. Rumah kedua yang menyediakan minuman. Rumah ketiga yang menyediakan hidangan berbuka, dsb. Selama 30 hari mereka berganti tugas, demi melayani masyarakat sekitar.

Jika ada orang yang melewati tempat berbuka mereka, mereka tak segan untuk memaksanya berbuka bersama mereka. Ini tradisi begal Ramadhan di Sudan. Memaksa seperti mengancam. Jika ada yang tak mau untuk berbuka disana, mereka akan keras untuk memaksanya.

Ada salah satu tempat berbuka favorit pelajar Indonesia. Kami menamakan tempat ini dengan sebutan ‘Bait Masya Allah’. Bait dalam bahasa Arab memiliki makna rumah, sedangkan kata Masya Allah kami ambil dari tulisan yang ada di rumah itu.

Baca Juga :  UM Selenggarakan International Conference on Islam, Economy and Halal Industry 2019

Pemilik rumah tersebut setiap harinya selama Ramadhan menyediakan hidangan berbuka di halaman rumahnya. Ini merupakan kebiasaan yang ia lakukan dari tahun ke tahun. Kami juga tak segan untuk senantiasa mampir di rumahnya, hehehe.

Mengapa dikatakan tempat favorit? Pemilik rumah menyediakan hidangan yang cukup istimewa setiap harinya. Pemilik rumah senantiasa menyediakan hidangan dengan lauk utama ayam dan daging. Rasanya pun lezat. Porsi yang disediakan tidak tanggung-tanggung, mungkin mencapai 150-200 porsi. Orang yang melewati rumahnya juga akan dipaksa untuk bergabung berbuka bersama mereka.

Belum lagi budaya salat Tarawih di Sudan. Salat Tarawih di mayoritas masjid besar hampir sama pelaksanaannya, 11 rakaat. Yang istimewa adalah setiap malamnya sang imam membaca satu juz, sehingga dalam 30 hari di bulan Ramadhan mereka membaca 30 juz Al Quran.

Dalam 10 hari terakhir pula, masjid-masjid besar mengadakan salat malam. Setiap malamnya sang imam membaca 3 juz dalam kisaran waktu dua jam. Sehingga di hari terakhir Ramadhan, masjid tersebut mengkhatamkan Al Quran dua kali, ketika taraweh, dan ketika salat malam.

Baca Juga :  Indonesia Harus Bersiap Hadapi Bencana Demografi

Di Sudan sana, kita tidak akan pernah kelaparan ketika bulan Ramadhan. Selain bertebaran hidangan makanan berbuka secara cuma-cuma, berbagai hidangan keberkahan juga tersajikan untuk mengenyangkan ruhiyah kita. (Jul)

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *