Kemenristekdikti Akan Impor 500 Profesor? Ini Kata Guru Besar UB

Infokampus.news, Malang – Wacana untuk mendatangkan 500 guru besar dari luar negeri ke Indonesia oleh Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI menjadi hangat diperbincangkan oleh para akademisi khususnya guru besar di Indonesia. Impor guru besar ini rencananya ditujukan untuk melakukan riset dan pembimbingan kepada mahasiswa program doktor untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkelas dunia.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijya (FEB UB) Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak angkat bicara. Menurutnya kalangan dosen dan guru besar di Indonesia sudah memenuhi kualifikasi untuk menghasilkan lulusan mahasiswa yang berkualitas dan berdaya saing internasional.

“Terbukti dengan adanya lulusan-lulusan dengan prestasi bagus sehingga dilirik oleh luar negeri,” kata Profesor Unti yang juga merupakan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UB.

Indonesia Tertinggal di Bidang Penciptaan Karya Ilmiah

Namun di sisi lain ia mengakui bahwa akademisi Indonesia saat ini masih tertinggal jauh dari beberapa negara lain dalam bidang penciptaan karya ilmiah. Hal ini menurutnya disebabkan oleh kurangnya apresiasi, perhatian, ataupun dorongan baik secara materi maupun mental oleh pemerintah terhadap karya ilmiah ataupun penelitian akademisi.

“Baru-Baru ini saja pemerintah memberikan perhatian besar di bidang dana-dana penelitian dan intensi publikasi,” ungkapnya kepada Infokampus.

Ia yakin jika kementerian saat ini dapat membuat skema dan menyediakan dana yang cukup untuk riset dan publikasi bagi guru besar, maka para akademisi Indonesia akan terdorong untuk menghasilkan karya-karya akademis yang bagus dan dapat dipublikasikan di media internasional.

Infrastruktur Riset Buruk, Riset Dibawa ke Luar Negeri

Ketiadaan Infrastruktur riset di Indonesia membuat sejumlah penelitian penting anak bangsa dibawa ke luar negeri. Prof. Unti menyebut bukti nyatanya adalah para akademisi yang pulang dari luar negeri ketika ingin melanjutkan riset di Indonesia masih terkendala aspek-aspek legal.

“Contohnya penemu mobil listrik kemarin, karena kebijakan yang kurang konsisten dari pemerintah akhirnya peneliti tersebut dikriminalisasi,” paparnya.

Permasalahan tersebut yang membuat banyak peneliti di Indonesia banyak yang memilih melakukan riset diluar negeri. Gairah para peneliti untuk mengembangkan keilmuan berbasis riset di Indonesia-pun akhirnya menurun.

Mengapa Jumlah Guru Besar di Indonesia Minim?

Minimnya jumlah guru besar di Indonesia, menurut Prof. Unti adalah rendahnya ekspektasi dosen untuk menjadi seorang guru besar. Selain itu, dorongan seseorang untuk menjadi guru besar menurun sebab insentif antara dosen dan guru besar hampir tidak ada perbedaan secara jumlah yang artinya usaha menjadi guru besar tidak setimpal dengan reward yang didapat.

Baca Juga :

“Dulu antara dosen dan guru besar kan tidak terlalu jauh dari sisi reward-nya. Dengan usaha untuk menjadi guru besar yang tidak setimpal dengan reward-nya untuk itu banyak dosen yang akhirnya mengurungkan niat menjadi guru besar,” jelasnya.

Dilema menjadi guru besar di Indonesia juga disebabkan karena banyaknya jumlah mahasiswa di perguruan tinggi yang membuat para dosen terbebani oleh kewajiban mengajar dibanding meluangkan waktu untuk melakukan riset dan publikasi. Namun di sisi lain, keberlangsungan perguruan tinggi juga bergantung pada pendanaan biaya pendidikan oleh mahasiswa.

“Jadi, jika perguruan tinggi mengurangi jumlah mahasiswa secara signifikan maka akan berdapak terhadap jumlah alokasi kesejahteraan dosen yang akan menurun,” imbuhnya.

Sedangkan mengenai wacana impor 500 guru besar oleh Kemenrustekdikti, Dekan FISIP ini memilih netral, tidak dalam posisi menolak ataupun menerima wacana pemerintah. Dirinya menganggap suatu kebijakan pasti akan memberikan dampak baik dan buruk.

“Yang pasti jika memang hal ini dapat menggairahkan Pendidikan Tinggi di Indonesia ada baiknya kita dukung, tetapi dengan tidak mengesampingkan efek-efek buruknya pula,” tandasnya mengakhiri pembicaraan.

Penulis : Ucha Julistian
Editor : Galuh Pandu Larasati

Foto : Ucha – Infokampus.news

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mahasiswa UM Surabaya Buat Tong Sampah Pintar

Mahasiswa Teknik Komputer Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur, Asa Yunita membuat tong sampah pintar

Close