Ketidakadilan Ekologi Feminisme Pada Era Globalisasi

Infokampus.news, Malang – Kartini mengajarkan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan mengenai kesetaraan gender, namun pada saat ini bermunculan lagi masalah mengenai ketidakadilan ekologi feminisme. Sebagai seorang perempuan, sudah sepantasnya mendapatkan hak yang sama terhadap kebebasannya.

Pada era ini sangat banyak ditemui potret ketidakadilan pada kaum perempuan, khususnya pada saat perempuan memiliki masalah dikehidupan sosial. Kini potret ketidakadilan sudah berganti wajah, semakin banyak pelecehan dan masalah-masalah sosial yang didapatkan oleh kaum perempuan.

Memang R.A Kartini sudah berhasil memperjuangkan hak-hak sebagai seorang perempuan, namun pada saat ini semakin banyak ditemui masalah-masalah perempuan terutama pada saat perempuan menjadi yang korban namun tetap mendapatkan sanksi sosial oleh orang-orang disekelilingnya.

Potret Ketidakadilan Ekologi Feminisme

Wida Ayu Puspitasari, M.Si dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya mengungkapkan jika ekologis feminisme di Indonesia memang berbeda dengan di barat, pada saat ini banyak sekali perempuan-perempuan yang lebih suka mengagung-agungkan modernisasi dan kemajuan teknologi. Sedikit sekali perempuan yang masih peduli terhadap lingkungan maupun orang-orang yang ada disekelilingnya.

“Banyak sekali potret ketidakadilan dalam ekologis feminisme, dengan memberikan tuduhan sosial terhadap perempuan dan bahkan kaumnya sendiripun kini tidak peduli terhadap pelecehan yang ditujukan pada sesamanya,” ungkapnya.

“Contoh kasus yang sering terjadi adalah perempuan yang sudah berumah tangga dituduh menjadi agen perusak ekologis dengan membuang ataupun memproduksi limbah rumah tangga sedangkan pada kenyataannya limbah rumah tangga itu tidak hanya dihasilkan oleh perempuan yang sudah berumah tangga saja,” paparnya.

“Jika tuduhan itu dibenarkan maka perempuan belum menikah adalah penyumbang pelestarian alam, jadi untuk apa kita minder jika ada orang yang mempermasalahkan perempuan yang belum menikah,” sambungnya.

“Pada faktanya ketika perempuan dilakukan secara tidak adil, mereka memperjuangkan hak sesuai dengan apa yang pernah dialaminya dan tentunya memutuskan segala hal dengan perasaan, berbeda dengan laki-laki yang cenderung berpikir secara rasional dan melihat semua hal melalui apa yang dilihat bukan apa yang dirasakan,” ungkapnya.

“Seperti contoh kasus seorang mahasiswi membunuh bayinya, tidak seharusnya dia mendapatkan sanksi sosial melainkan dia adalah korban kekerasan seksual yang merusak dirinya tidak seharusnya mengekspose identitasnya,” tegasnya.

“Bagaimana menghilangkan ketidakadilan jika kita tidak peduli terhadap kaum kita sendiri. Sudah saatnya kita memberikan etika kepedulian melalui hal-hal kecil. Jika memperjuangkan hak atau keadilan dengan rasa cinta, kita tidak akan merasa lelah,” tutupnya. (has)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video Contest Uniga Malang

Sebagai salah satu rangkaian acara yang diagendakan oleh panitia, kali ini universitas yang biasa disebut Uniga Malang itu

Close