UB Tuan Rumah Konferensi Internasional Peneliti Disabilitas Pertama

Infokampus.newsAustralia – Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN) mengadakan konferensi dua tahunan pertama di Malang, Selasa-Rabu (24-25/9). Agenda ini diselenggarakan di aula lantai 10 gedung C Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB).

Hadir sebagai pembicara utama dalam konferensi ini Chair of Policy Research La Trobe University Prof Patrick Keyzer. Sejumlah tokoh yang hadir dalam konferensi ini Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristek Dikti Prof Dr Ocky Karna Radjasa MSc, dan Presiden AIDRAN Dina Afrianty.

Konferensi ini dihadiri lebih dari 80 pembicara dari berbagai negara. Di antaranya dari Indonesia, Australia, China, Irak, Bangladesh, Nepal, dan Jepang. Mereka berbagi ide dan pengalaman tentang inklusi disabilitas di Indonesia. Topik-topik yang dibahas ialah tentang pendidikan, kesehatan, peluang kerja, akses pada keadilan, dan partisipasi dalam kehidupan politik, sosial, dan budaya.

Konferensi Peneliti dan Pembuat Kebijakan

Konferensi ini mempertemukan para peneliti, pendukung disabilitas, dan pembuat kebijakan. Mengangkat tema “Diversity and Disability Inclusion in Asia: Theorizing Advocacy and Research for Disability Policy and Social Inculusion”, konferensi ini merupakan kolaborasi antara AIDRAN dengan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UB.

Baca Juga :  Intip Para Pemenang Kompetisi Menulis Artikel Digitalisasi Kampus menuju World Class University

Staff Ahli Menteri PPN Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Dr Vivi Yulaswati MSc hadir dalam konferensi ini. Disebutnya, 8,56 persen penduduk Indonesia atau seitar 21 juta penduduk ialah penyandang disabiltas.

Disabilitas di Indonesia masih kerap mengalami pengasingan di lingkungan sosial. Akses ke layanan dan fasilitas publik juga kurang. Selain itu, partisipasi disabilitas paling banyak di sektor pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan.

Padahal, ekslusivitas atau pembatasan tenaga kerja dari disabilitas berdampak cukup besar terhadap perekonomian negara. Studi terbaru di 27 negara menyebut, eksklusi dari penyandang disabilitas dari pasar kerja menyebabkan negara kehilangan PDM hingga tujuh persen.

UB telah menjadi salah satu pelopor inklusi disabilitas dalam pendidikan tinggi. Hingga saat ini, PSLD UB telah menyediakan berbagai layanan untuk mahasiswa disabilitas. Layanan tersebut untuk mendukung mereka dalam melanjutkan studi. Di antaranya digitalisasi buku, dukungan akademik, dan berbagai pelatihan. PSLD UB saat ini memiliki kurang lebih 100 mahasiswa disabilitas dari berbagai fakultas.

Ketua Indonesia AIDRAN sekaligus Sekretaris PSLD Slamet Thohari berharap konferensi ini memberikan rekomendasi yang berguna bagi para praktisi dan pembuat kebijakan. “Kami berharap konferensi ini menghasilkan ide baru yang dapat digunakan pemerintah untuk mendukung upaya memenuhi hak penyandang disabilitas serta bukti yang data digunakan dalam mengadvokasi kebiijakan dan praktik yang lebih inklusif,” ujarnya. (Ich)

Leave a Reply

Your email address will not be published.