FMIPA UM Gelar Konferensi Internasional Magnetik

Infokampus.news – Siapa yang belum tahu bahwa batu mengandung magnet? Ya, ternyata batu, sedimen, dan tanah memiliki unsur magnetik yang sangat bermanfaat untuk menganalisis lingkungan sekitar.

Unsur magnetik dalam batu ternyata bisa menentukan arah medan magnet di masa lampau. Ini berguna untuk melacak jejak bencana alam yang terjadi di masa lalu. Selain itu, unsur magnetik batu juga bisa untuk melacak kondisi lingkungan, perubahan lingkungan, iklim, pertanian, bahkan kesehatan.

Itulah yang dibahas dalam International Conference on Electromagnetism, Rock Magnetism, and Magnetic Materials (ICE-R3M). Konferensi ini diselenggarakan oleh Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang (UM) di hotel Swiss-Bell Inn, Rabu (18/9).

Hadir sebagai pembicara Prof Dr Ann Marie Hirt dari ETH University Zurich, Dr Jason Scott Herrin dari Nanyang Technological University Singapore, Prof Dr Baba Musta dari University Malaysia Sabah, Prof Dr Satria Bijaksana dari ITB, dan Assoc Prof Dr Ahmad Taufiq dari UM.

Forum ini menjadi wadah bertemunya peneliti dari dalam dan luar negeri yang fokus melakukan penelitian di bidang magnetik. Bidang elektromagnetik fokus pada perkembangan metode berbasis  sifat fisika. Sedangkan magnetik material fokus pada bidang industri.

Baca Juga :  Inilah Mahasiswa Disabilitas ITN Malang, Pembuat Aplikasi Penerbitan Akta Cerai

Pengaruh Magnet Terhadap Apel Malang

Ketua pelaksana ICE-R3M Dr Siti Zulaikhah MSi yang juga dosen Geofisika bahkan sudah membuktikan penelitiannya tentang unsur magnetik batu pada kualitas buah apel di Malang. “Sifat magnet yang rendah baik untuk pertumbuhan apel. Produknya seperti apel manalagi di Poncokusumo,” ujarnya.

Sedangkan, unsur magnet dalam kategori standar akan menghasilkan apel dengan cita rasa asam seperti apel Rome Beauty di Pujon.  Selain itu, unsur magnet dalam batu dapat digunakan untuk mengukur area yang tercemar polusi tinggi.

“Jadi yang sederhana misalnya kita mengukur magnet batuan, sedimen, atau tanah yang ada di jalan raya di kota dengan yang di pinggiran kota,” imbuh dosen Fakultas MIPA UM ini.

Magnet dalam batuan juga bisa digunakan untuk melakukan mitigasi bencana. Zulaikhah pernah mengukur pelapukan batuan di bendungan Lahor, perbatasan antara Malang dengan Blitar. Ia meneliti pelapukan batuan yang berpotensi terjadinya tanah longsor.

Cita-citanya,  ia ingin membuat klasifikasi batu yang sudah lapuk dan masih segar. Pengukuran sifat magnetik batu dilakukan di laboratorium dengan alat analisis material. Hal tersebut bisa memberikan informasi yang komplit.

Baca Juga :  46 Perguruan Tinggi berlaga dalam KMHE 2019 di UM

“Setiap lingkungan yang berubah, sifat magnetiknya berubah,” ujarnya.

Hingga saat ini, jumlah dosen di Indonesia yang fokus di bidang magnetik belum banyak. Di UM, ia mengaku baru dirinya. Untuk itu, ia bersama dengan dosen magnetik dari berbagai universitas di Indonesia membentuk komunitas Indonesian Rock Magnetism Association pada pertengahan   2019 lalu.

Konferensi ini menjadi media diskusi penelitian magnetik dalam batuan yang sangat penting untuk mengetahui seluk beluk bumi di masa lampau hingga masa depan. 70 makalah yang disajikan dalam konferensi ini akan dipublikasikan dalam jurnal terindeks skopus. (ich)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *