Mahasiswa Ini Inovasikan Tablet Apung dari Kulit Pisang

Infokampus.news – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Kresensia Apriana Bukarim, membuat tablet apung dari amilum kulit pisang yang aman bagi lambung.

Kresensia di kampus setempat, Jumat, mengatakan ide pengembangan Amilum mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) RI Nomor 87 Tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengembangan Bahan Baku Obat yang mengatur bahwa Amilum merupakan salah satu bahan baku obat yang akan dikembangkan dalam skala jangka menengah.

“Penelitian saya merupakan pengembangan lanjutan dan berfokus pada pengembangan fungsi dari amilum kulit pisang. Pada penelitian ini digunakan amilum kulit pisang agung yang berfungsi sebagai matriks kombinasi untuk sediaan tablet floating ibuprofen,” tandas mahasiswi yang meraih predikat Wisudawan Akademik Terbaik ini.

Baca Juga:

Pada penelitian ini, amilum kulit pisang agung digunakan sediaan tablet floating ibuprofen. Tablet floating adalah tablet yang mampu mengapung pada cairan lambung karena memiliki densitas (massa jenis) yang lebih kecil dari air dan dirancang untuk mampu bertahan selama 10 jam di dalam lambung.

“Amilum kulit pisang berfungsi sebagai matriks kombinasi pada pelepasan obat yang terjadi secara perlahan. Model obat yang digunakan disini adalah ibuprofen yang berindikasi untuk pengobatan antiinflamasi,” katanya.

Ia menjelaskan dengan pelepasan perlahan ibuprofen pada lambung akan meningkatkan absorbsi ibuprofen dan kadar ibuprofen dalam darah. Dari penelitian ini diketahui bahwa amilum kulit pisang agung selain dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada sediaan tablet, dapat juga digunakan sebagai matriks pelepasan tablet floating.

“Tahap-tahap pembuatan tablet diawali dengan pembuatan amilum kulit pisang agung, lalu pembuatan tablet menggunakan formula yang sudah fix, pengujian dan evaluasi tablet, termasuk di dalamnya analisis kadar obat mencari formula optimum menggunakan program desain expert pembuatan tablet optimum serta pengujian dan evaluasi tablet optimum,” paparnya.

Kresensia menjelaskan penelitian ini dilakukan kurang lebih satu tahun bersama temannya yakni Asmaul Fauziah, Morisia HW, dan Deianira Chandrikarani dengan didampingi oleh Dosen Pembimbingnya, Dr Y Lannie Hadisoewignyo S.Si M.Si, Apt dan Henry K S S.Si M.Si Apt.

Dia mengaku terdapat kendala pada tahap awal melakukan orientasi, yakni kesusahan menentukan formula (pemilihan bahan tambahan yang sesuai) agar tablet dapat mengapung pada cairan HCl (simulasi cairan lambung) sesuai waktu yang ditetapkan.

Ke depannya, Kresensia berharap bisa menjadi seorang apoteker yang mampu memberikan suatu kontribusi positif untuk profesinya terutama dalam pengembangan bahan obat.

“Ke depan, saya berharap punya kesempatan untuk melanjutkan penelitian ini pada tahap uji in vivo, untuk melihat kadar obat dalam darah. Namun kembali lagi, kalau diberi kesempatan kuliah S-2,” katanya. (FAM)

 

Sumber: Republika

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Aplikasi ‘Discover’ Bantu Kaum Difabel Beraktivitas

Saat ini teknologi semakin berkembang. Meski begitu, inovasi-inovasi yang dihasilkan terkadang kurang memperhatikan kebutuhan kaum difabel.

Close