Kulit Manggis Memang Ada Ekstraknya, Tapi Kalau Dibuat Pengawet Cabai? Mahasiswa IPB Ini Ahlinya!

Infokampus.news – Selera rakyat Indonesia memang tidak jauh-jauh dari makanan pedas, sebab selain mempunyai banyak resep tradisional yang turun temurun, Indonesia juga memproduksi bahan bakunya sendiri. Bahan baku untuk makanan pedas? Apa lagi kalau bukan cabai. Salah satu komoditas pertanian penting di Indonesia ini kini mulai terancam oleh beberapa hal yang menghambat produksinya, antara lain yaitu pola transportasi dan cuaca yang tak menentu serta hama penyakit yang menyerang bukan ketika penanaman melainkan pada fase penyimpanan. Cendawan Colletotrichum Capsici adalah salah satu bakteri utama penyebab penyakit busuk antraknosa. Tak hanya menyerang pada fase budidaya, namun patogen ini juga dapat menginfeksi cabai yang telah dipanen. Namun ternyata ada cara yang relatif aman untuk mengawetkan suatu produk pertanian, yakni dengan cara aplikasi pelapisan buah atau produk pertanian lain yang aman ketika turut dikonsumsi (edible coating). Metode yang diterapkan oleh mahasiswa IPB berikut ini.

Hasan Bisri, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, melakukan penelitian penanganan pascapanen dengan aplikasi edible coating menggunakan ekstrak kulit manggis untuk mengendalikan patogen penyebab penyakit antraknosa pada cabai.

“Buah manggis merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa kimia bermanfaat. Ekstrak kulit manggis sendiri sudah banyak diteliti dan memiliki banyak manfaat untuk manusia. Kulit manggis juga telah lama menjadi obat herbal untuk masyarakat Asia Tenggara,” papar mahasiswa IPB ini.

Kulit manggis ini mengandung senyawa yang memiliki sifat antioksidan, antitumoral, antiinflamasi, antialergi, antibakteri, antiviral, antimalarial, dan antifungal. Antifungal yang terdapat di kulit manggis lah yang berpotensi menghambat cendawan patogen penyebab penyakit busuk antraknosa, sebab Antifungal merupakan kemampuan senyawa kimia untuk menghambat pertumbuhan cendawan.

Ada tiga perlakuan yang diuji yaitu P (perlakuan ekstrak kulit manggis), K- (kontrol negatif), dan K+ (kontrol positif). Berdasarkan uji in vitro, penambahan ekstrak kulit manggis dengan konsentrasi efektif yaitu 50%. Edible coating sendiri berkomposisi tepung sagu, Carboxymethyl Cellulose (CMC), dan gliserol yang kemudian ditambahkan ekstrak kulit manggis.

Dari penelitian tersebut, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa ekstrak kasar kulit manggis dengan konsentrasi 50% mampu menekan pertumbuhan C. capsici penyebab penyakit antraknosa pada buah cabai. Penerapan ekstrak kasar kulit manggis mampu menekan tingkat keparahan penyakit antraknosa pada buah cabai sebesar 57% dan memperpanjang masa inkubasi C. capsici sebesar 94% (dari 2.13 hari menjadi 4.13 hari). (FY/Zul/Him)

 

Sumber: Institut Pertanian Bogor

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Kesempatan Kerja di Angkasa Pura Supports Jangan Sampai Lewat!
Kesempatan Kerja di Angkasa Pura Supports Jangan Sampai Lewat!

Halo job seeker! Buat kamu yang selepas lulus belum punya pekerjaan, ada info terbaru tentang lowongan kerja di Angkasa Pura...

Close