Mahasiswa ITS Mengolah Limbah Plastik Jadi Bio Fuel

Infokampus.news – Jika biasanya tanaman enceng gondok menjadi hiasan tanaman, namun tidak di mata Sri Utami. Mahasiswa Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu mengolah limbah plastik kemasan minuman menggunakan sari eceng gondok menjadi sebuah Bio Fuel, yakni sumber energi alternatif yang ramah lingkungan untuk masa depan.

Dara yang akrab disapa Tami itu mengaku mendapat ide setelah melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, belum ada pengolahan sampah kemasan botol air mineral. Dari sanalah, Tami tergerak untuk menciptakan alat yang dapat mengolah limbah sampah tersebut menjadi bahan bakar minyak.

“Awalnya limbah plastik dicacah menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian cacahan tersebut diproses dengan metode pirolisis,” terang Tami seperti dinukil dari laman ITS, Jumat (9/12/2016).

Baca Juga:

Pirolisis merupakan proses dekomposisi bahan anorganik melalui proses pemanasan. “Hasil dari proses pirolisis ini adalah liquid fuel atau bahan bakar minyak,” lanjut mahasiswi asal Malang ini.

Liquid fuel inilah yang nantinya dikomposisikan dengan hasil fermentasi bioetanol dari eceng gondok menjadi bahan bakar minyak yang beroktan tinggi.

“Kita komposisikan sedemikian rupa agar mirip dengan nilai oktan bensin. Yaitu 90 persen bioetanol dan 10 persen liquid fuel,” jelas Tami sembari menunjukan diagram keseluruhan proses pembuatan Bio Fuel ini.

Tidak tanggung-tanggung, inovasinya ini berhasil memboyong dua piala juara satu dari dua ajang Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berbeda, yaitu Lomba KTI Bio Fest yang diselenggarakan oleh Departemen Biologi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Lomba KTI Environment Festival yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga.

Ditemui disela kesibukannya, Tami berbagi pengalamannya. “Saya melihat salah seorang teman saya yang sukses dari menulis, saya merasa iri lalu tertantang untuk turut menulis,” ujar Tami yang kemudian menyukai bidang penulisan ilmiah.

Tami menegaskan, ide menulis hakikatnya bisa muncul dari mana saja. Terutama dari lingkungan sekitar. Namun seringkali sebagian orang berasumsi membuat karya tulis ilmiah itu sulit. “Sangat disayangkan bila kita mengatakan sulit, tapi belum pernah mencoba untuk menulis,” pungkasnya.

Kedepannya, Tami sangat berharap dapat mempresentasikan karya terbaiknya ini di konferensi internasional. “Target terdekat adalah ajang Call for Paper di Hokkaido, Jepang.” ujar Tami menutup kisahnya. (FAM)

 

Sumber: ITS

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hal Ini Buktikan Bahwa Kuliah Tak Seindah FTV, Setuju?

Kehidupan perkuliahan yang digambarkan begitu glamor dan penuh senang-senang. Padahal di kehidupan nyata kehidupan kuliah tak seindah FTV

Close