Memasuki Tahun ke 103, Ini Salah Satu PR Kota Malang Menurut Pakar Tata Kota UB

Infokampus.news, Malang – Di usia Kota Malang yang pada tanggal 1 April 2017 nanti berusia 103 tahun ternyata masih meyimpan banyak PR bagi pemerintah untuk membenahi kondisi Tata Wilayah Kotanya. Diungkapkan Oleh Pakar Tata Kota Universitas Brawijaya (UB), Aris Subagiyo, ST., MT., Kota Malang masih punya pekerjan besar berkaitan dengan konsepsi pembangunan berkelanjutan yang saat ini telah menjadi agenda global. Diakuinya, Dalam ketiga aspek pembangunan berkelanjutan yaitu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan, saat ini kota Malang masih lemah dalam aspek pembangunan berkelanjutan di ranah lingkungan.

Masyarakat Pemukiman Kota Malang Masih Abaikan Ruang Terbuka Hijau privat

Dirinya mecontohkan pada masalah banjir. Jumlah titik genangan air di beberapa daerah di Kota Malang makin bertambah disebabkan makin berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Idealnya dalam suatu kota memiliki presentase sebesar 30% RTH yang terbagi dalam 20% Publik dan 10% Privat. Dirinya menuturkan, Jika dilihat dari RTH Privat saja, saat ini kondisi kawasan pemukiman di perkotaan saja sudah jarang ditemukan sebuah rumah yang memperhatikan RTH Privat tersebut. Mayoritas pemukiman di kota saat ini memanfaatkan seluruh luas bangunan di kavlingnya untuk bangunan, tanpa menyediakan sedikit lahan untuk Ruang Terbuka Hijau.

“Misal luas tanahnya 1oo meter persegi, ya mereka membangun bangunannya seluas seratus meter persegi itu, tanpa menyediakan sedikit lahannya untuk ruang terbuka hijau. Akhirnya ketika hujan tiba air itu langsung turun kejalan dan selokan dan ditambah drainase yang kurang baik, timbulah genangan-genangan banjir.  Prinsip pengelola kota saat ini belum berasaskan pembangunan berkelanjutan, mereka berpikir ketika hujan, air hujan itu segera keselokan, selokan ke sungai, sungai kelaut,” Paparnya.

Ruang Terbuka Publik Kota Malang Masih  Dibawah Standar Ideal

Aris juga menyoroti target Ruang Terbuka Hijau Publik yang saat ini masih dibawah standart  ideal 20%. Di Kota Malang saat ini terjadi perubahan kondisi suasana Malang yang tidak lagi dingin dan sejuk layaknya dulu, disebabkan tidak imbangnya pertambahan penduduk  dengan Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Malang. Saat ini pengelola kota hanya melakukan peremajaan di RTH yang sudah ada, tanpa menambah luasan RTH. Padahal, RTH punya peran penting dalam menjadi daeerah resapan air sekaligus menjadi daerah hijau penyaring polusi.

“Saat ini presentasi masih berada di kisaran 11 persen, ini kan masih sangat kecil. ini kan artinya masih jauh dari yang diamanahkan oleh UU No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang,” Paparnya.

Pakar Tata Wialayah Kota : Semoga di tahun yang ke 103, Kota Malang Makin Banyak RTH

Aris Berharap, Kedepannya pembangunan Ruang Terbuka Hijau terus digalakkan pemerintah kota Malang. karena memang, RTH sendiri sangat penting dalam menjaga aspek lingkungan di suatu kota. “Taman-taman dan hutan kota juga menjadi faktor vital dalam menjaga kondisilingkungan di suatu kota. Polusi udara bisa di  Kurangi dengan RTH. RTH juga bisa menjadi daerah resapan air guna mencegah banjir. Jadai, perlu ada perhatian khusus agar RTH dikota Malang bisa mencapai Standar yang ideal,” pungkasnya. (uch)

 

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UM Sosialisasikan Dewan Pengawas PK-BLU Untuk Pacu Kinerja!

Universitas Negeri Malang (UM) tidak ingin menyiakan waktu sedikitpun untuk melakukan perkembangan, setelah menjadi kampus BLU

Close