Ketua PBNU Kupas Multikultural dan Radikalisme di Universitas Islam Malang

Infokampus.news, Malang – Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali mengundang tokoh – tokoh besar yang sangat menginspirasi dengan membahas Multikultural dan Radikalisme. Kali ini dikemas dalam kuliah umum yang diselenggarakan di Hall Abdurrahman Wahid lantai 7 gedung Pascasarjana Unisma pada Jumat (17/03).

Dengan mengangkat tema “Islam Nusantara Sebagai Jembatan Untuk Mengembangkan Kehidupan Multikultural dan Deradikalisasi Agama” Prof. Dr. KH, Said Aqil Siroj, MA selaku Ketua Umum Tanfidziyah PBNU hadir sebagai pemateri.

Lebih dari 600 peserta hadir dalam kuliah umum, peserta sangat antusias menyimak materi yang dijelaskan. Segenap Civitas Akademika UNISMA, Sekertaris Yayasan, Pengurus dan Pengawas Yayasan Unisma. Juga tampak hadir Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Malang Dr. Umar Usman beserta jajaran pengurusnya.

Rektor Unisma Prof. Dr. H. Masykuri M.Si. menyampaikan ucapan selamat datang kepada Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj MA. di Kampus hijau UNISMA.

“UNISMA masih terus membangun, bukan hanya pada fasilitas sarana prasarana, infrastruktur bangunan yang ada di lingkungan UNISMA tetapi juga diimbangi membangun kualitas serta peningkatan mutu pendidikan hingga peningkatan kualitas dosen juga,” pungkasnya.

“Kampus yang memiliki jargon dari NU untuk Indonesia dan peradaban dunia,” tambahnya.

Multikultural dan Radikalisme Dalam Kehidupan Bernegara

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. mengupas esensi dari ke Bhinnekaan dan warna kehidupan masyarakat di Indonesia. Kyai Said juga mengupas materi Islam Nusantara yang menekankan pada multikultural, yang selalu saling menghargai dalam beragam perbedaan mulai dari perbedaan agama, perbedaan suku dan perbedaan budaya.

“Indonesia ini lebih mengutamakan Kewarganegaraan bukan Kewargaagamaan,” ungkap Kyai Said.

“Islam itu agama yang damai, tidak perlu ada kekerasan di dalamnya. Hal ini menunjukkan agama Islam adalah rahmatan lil alamin,” tambahnya.

Islam mengajarkan kebersamaan dalam keberagaman dan ke Bhinnekaan dalam konteks hubungan sesama manusia. Inilah makna multikultural yang seharusnya dikembangkan di Indonesia. (has)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ketua Aptisi Jatim, ‘PTS Tidak Mau Rukun, Harus Tutup’

Di awal tahun 2017 ini ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H., M.H., memberikan statement

Close