Pakar UGM : Atasi Kekeringan Dari Dini Dengan Konsep “Memanen” dan “Menabung”

Infokampus.news – Saat ini siklus cuaca tidak dapat ditebak, perkiraan cuaca-pun juga dapat berubah. Di Indonesia, saat ini masih mengalami musim kemarau panjang. Kejadian alam ini dapat dibilang sangat mempengaruhi masyarakat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para penduduk Indonesia yang mayoritas petani namun seluruh masyarakat juga ikut merasakannya.

Cuaca panas dan kering ini menjadi salah satu dampak yang dirasakan, Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi ini akan terjadi hingga akhir September mendatang. Diperkirakan musim hujan baru akan terjadi pada Oktober dan November.

Dr. Ing. Ir. Agus Maryono selaku dosen Magister Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada menuturkan jika masalah kekeringan ini dapat diselesaikan dengan merubah budaya yang ada di masyarakat. Membiasakan budaya mempersiapkan diri menghadapi bencana kekeringan.

“Belum membudayanya kegiatan “memanen” dan “menabung” air hujan oleh masyarakat dan pemerintah/ pemerintah daerah ini menjadikan tidak adanya persediaan air di masyarakat di saat musim kemarau. Ketidaksiapan masyarakat inilah yang menimbulkan penderitaan kekeringan di berbagai daerah,” ungkapnya.

“Karena itu, gerakan “memanen” dan “menabung” air hujan mestinya bisa menjadi suatu gerakan, gerakan masyarakat menghadapi bencana kekeringan dan bukan selalu bergantung pada pemerintah,” pungkasnya.

Kelola Penggunaan Air Dengan Konsep “Memanen” dan “Menabung” Sangat Membantu Atasi Kekeringan

Agus Maryono menyatakan jika kondisi ini dapat dilakukan secara preventif (sebelum terjadi kekeringan) dan kuratif (saat terjadi kekeringan). Cara preventif merupakan upaya antisipasi dan melakukan persiapan di saat musim penghujan sebelumnya. Sedangkan kuratif menggunakan cara-cara pragmatis emergency, misalnya dengan mencari sumber-sumber air, menunggu droping air dan membeli air dan sebagainya.

“Jika hanya cara kuratif yang dijalankan maka hal ini memperlihatkan ketidaksiapan masyarakat menghadapi kekeringan. Apalagi, masyarakat sudah terbiasa dengan menerima bantuan droping air, membeli air dan lain-lain,” tegasnya.

“Upaya pengurangan risiko bencana kekeringan dengan mengelola atau “memanen” air hujan merupakan upaya nyata mencegah banjir dan mencegah penurunan kualitas air tanah dan permukaan,” tandasnya. (has)

Sumber : https://www.ugm.ac.id/

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ganti Minum Kopi Dengan Wedang Biji Trembesi , Dijamin Tidak Ada Gizi Buruk di Indonesia!

Ganti minum kopi dengan wedang biji trembesi atau dikenal dengan nama Wedang Gorilla (Wedang Godril Lamongan) ternyata memberikan dampak yang...

Close