Pantau Udara Kota, ITS Ciptakan Pemantau Udara Dengan Harga Murah

Infokampus.news – Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara di Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang alat pemantau udara dengan harga murah. Kepala Laboratorium, Dr Eng Arie Dipareza Syafei ST M EPM memasang target agar alat ini dapat menjadi produk andalan ITS.

Berdasarkan data yang diberikan oleh lima stasiun pemantau udara di Kota Surabaya, kondisi udara di Surabaya kerap melebihi baku mutu. Keadaan inilah yang dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan warganya. Akan tetapi, data dari stasiun pemantau kerap kali hilang dikarenakan adanya kerusakan pada alat.

Harga alat pengukur kualitas udara saat ini berada pada kisaran Rp 2 milliar. Selain itu, biaya pembenahannya juga masih dianggap mahal. Sehingga pemerintah kota tak berkutik saat alat tersebut tidak bekerja dengan baik. Hal ini lah yang menjadi dasar bagi Arie dan tim untuk menciptakan alat pemantau udara dengan harga miring.

Bersama seluruh laboran dan dua mahasiswanya yaitu Titing Fahriza dan Qory Constantya, Arie akan terus melakukan pengembangan alat. Ia dan tim akan memasang harga Rp 80 juta hingga Rp 100 juta saat alat ini telah dipatenkan nanti. “Meskipun harganya jauh lebih murah, alat kami memiliki akurasi hingga 90 persen” ujar Arie ketika ditemui ITS Online pada Rabu (25/1).

Berbeda dengan alat pantau udara yang menggunakan sistem gas analyzer, alat pantau milik ITS ini menggunakan sensor. Penggunaan sensor lah yang menyebabkan perbedaan harga dengan alat-alat yang tersedia saat ini. “Dengan sensor electrochemical, alat ini sudah mampu membedakan polutan dalam dua jenis gas. Alat ini dapat diakses melalui situs via perangkat masyarakat,” tambahnya.

Memasuki prototype yang ketiga, Arie mengaku tidak mendapat kendala berarti dalam merancang alat ini. Ia dan timnya juga mendapat dukungan penuh dari ITS dengan adanya dana lokal. Karena alat ini merupakan rangkaian elektronika, mereka tahu bahwa alat ini butuh pengembangan berkali-kali.

“Alat ini merupakan bentuk kontribusi ITS terhadap pemerintah dan masyarakat. Harganya bisa dibilang lebih terjangkau dibandingkan alat yang saat ini beredar. Harapannya, alat pengukur kualitas udara ini dapat dipasang di seluruh daerah di Indonesia,” tutup dosen lulusan Hiroshima University Jepang ini. (FAM)

 

Sumber: Okezone

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beasiswa S2 StuNed di Universitas Belanda

Beasiswa S2 StuNed – Master merupakan beasiswa S2 untuk durasi kuliah 12 – 24 bulan dengan banyak pilihan program studi.

Close