Peran Mahasiswa Dalam Era Mea

Tidak terasa sudah Bulan Februari, dimana lebih dari sebulan sejak MEA diberlakukan dari 1 Januari 2016. Ada sebagian orang yang sudah terkena dampaknya ada juga yang belum. Sebelum lanjut tentang pembahasan mengenai peran Mahasiswa dalam era MEA mari kita ulas dulu pengertian MEA.

Apasih MEA itu?

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan kesepakatan negara-negara ASEAN dalam meningkatkan kerja sama bidang perekonomian akan diberlakukan pada 31 Desember 2015. Bentuk kerja sama ini bertujuan agar terciptanya aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih, serta aliran investasi yang lebih bebas. Indonesia yang merupakan salah satu negara yang ikut ambil bagian dalam MEA 2015 memiliki potensi dan peluang yang besar untuk meningkatkan perekonomian nasional.

Hubungan mahasiswa dengan MEA apa?

Wah, peran mahasiswa adalah PENTING untuk MEA.

Seperti kata M. Nasir,” Kalau di era MEA pendidikan kita harus menghasilkan sumberdaya yang mampu berkompetisi. Harus berkompetinsi yang bisa dijadikan ukuran. Era kompetisi yang dijadikan pemenang. Pemenang adalah mereka yang memiliki kompetensi . Kalau kompetensinya itu baik, dia menang. Oleh karena itu, khususnya program Diploma 3 kami akan dorong masalah kompetensi. Kemudian untuk S1 di bidang engineering ini segera selesai perpresnya PP tentang keinsinyuran, nanti insinyur itu akan kami lakukan uji kompetensinya supaya nanti ada standar yang ditetapkan sehingga nanti ada pengakuan internasional”

Nasir menyayangkan mahasiswa Indonesia belum sepenuhnya dapat berkompetensi di era MEA. Ia pun akan melakukan pertukaran mahasiswa antar perguruan tinggi supaya bisa mentransfer ilmu dan berkembang.

“Maka perguruan tinggi kita yang sudah besar, sedang, dan yang kecil nanti kita akan kita sharing ini. Kita sharing itu perguruan tinggi besar bisa membina peruruan tinggi kecil. Perguruan tinggi besar akan saya datangkan tenaga dari luar negeri, tujuannya adalah supaya accelerasi world class menjadi lebih cepat,” imbuhnya.

Terkait mahasiswa menurut Nasir akan mengikuti perkembangan penerimaan mahasiswa. Bila universitas itu telah membuka kelas internasional berarti saat profesor dari luar negeri di datangkan sudah tidak ada masalah karena terbiasa menggunakan bahasa Inggris.

Nasir menyebut langkah strategis untuk menghadapi MEA pada mahasiswa untuk mempelajari ilmu marketing dan entrepreneur. Perbedaan kompetensi dari satu individu dengan individu lain harus terlihat nyata dalam praktik menurut Nasir.

“Kita mencari indiferensi, indiferensi itu dari segi teori bisa tetapi begitu kita terapkan dalam praktik gimana caranya. Masing-masing kita harus punya kompetensi, kalau gak bisa kompetensi gak bisa kompeten. Contoh sebagai jurnalis akan diterima di media mana pun kalau punya kompetensi, tapi kalau tidak, tidak akan diterima di media. Kompetensi ini menjadi sangat sehat dan kompetensi menjadi ukuran, maka ukuran ini harus diwujudkan dan operasionalkan sehingga indiferensi itu sangat jelas sekali,” Tutur M. Nasir. (detik.com)

Kesimpulannya apa?

Mahasiswa adalah iron stok bagi bangsa Indonesia dan bangsa lainnya. Mahasiswa akan menggantikan tempat para pemimpin-pemimpin bangsa. Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga kemampuan non-akademik untuk menunjang kemajuan bangsa. Dari berbagai segi masyarakat berharap akan kemajuan bangsa di tangan para Mahasiswa.

Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi serta semangat dalam merealisasikan aspirasinya, sehingga mereka mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai generasi muda perlu membuat berbagai kegiatan yang bisa menopang MEA, diantaranya yaitu menciptakan inovasi dalam bentuk usaha, keaktifaan diorganisasi kampus, mensosialisasikan MEA dan mengajak kaum muda lain untuk meningkatkan daya wirausaha sehingga usaha-usaha baru akan muncul dan bisa mempertahankan perekonomian negara.

Selain itu, dari segi pendidikan mahasiswa perlu meningkatkan intelektualitas dan kredibilitas dalam bidang kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Jangan sampai mahasiswa Indonesia kalah dengan mahasiswa lain di negara ASEAN. Untuk menunjang peran mahasiswa dalam MEA, mahasiswa diharuskan untuk mempunyai kemampuan berbahasa asing yang fasih dan benar.

Mahasiswa Indonesia harus bisa menujukan bahwa kita juga mampu bersaing lebih dengan mahasiswa lain di ASEAN. Mahasiswa bukan hanya seorang yang duduk di bangku kuliah untuk mendengarkan materi kuliah, tapi seorang Mahasiswa adalah seseorang yang mampu peka terhadap masalah-masalah yang tengah terjadi di Masyarakat. (annarachmawati, 2015)

Kita sebagai mahasiswa harus mempunyai skill dan jangan mau kalah dari Mahasiswa luar di negara-negara lainnya. Cari pengalaman dan gali potensimu sedini mungkin agar nantinya bisa bersaing di dunia kerja. Jangan menunggu! Sukses bukan datang dari orang yang malas. So, would you be the creator or you just a follower? That’s your choice. Semangat! (AB)

 

Sumber: Dikutip dari beberapa sumber

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Universitas Diponegoro
Peringkat 10 Terbaik Versi Kemenristek Dikti, Universitas Diponegoro

Universitas Diponegoro, disingkat Undip, adalah sebuah Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia yang didirikan...

Close