Perpaduan Konsep “Masa lalu” dan “Masa Depan” Bawa Tim Arsitektur ITB Menjuarai Indonesia Landscape Design Competition 2017

Infokampus.news – Tim Arsitektur Insitut Teknologi Bandung (ITB) sukses menorehkan prestasi sebagai Juara 1 dalam kompetisi dua tahunan Indonesia Landscape Design Competition 2017 (ILDC 2017): Sudirman Monumental Streetscape, yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Lanskap (HIMASKAP) IPB pada Sabtu (30/09/17) lalu. Tim Arsitektur ITB ini  terdiri dari Dane Amilawangi (Arsitektur 2013), Hero Renaldi (Arsitektur 2013), M. Indra Ramadhan (Arsitektur 2013), dan Inda Rahmania (Arsitektur 2013) ini mengusung karya dengan judul “Reframing the Past for Assembling the Future”, dimana rancangan dikonsep sedemikian rupa untuk ‘membingkai’ masa lalu dan ‘merangkai’ masa depan dari kawasan Jalan Sudirman Bogor.

Tim Arsitektur ITB Rancang Pedestarian Yang Tak Hanya Unik, Namun Juga Ramah Bagi Pejalan kaki

Dalam mengemas rancangan dengan tema tersebut, tim Arsitektur ITB menjadikan dua landmark ternama di kota Bogor yaitu Istana Negara dan Tugu Air Mancur sebagai titik awal dan akhir. Selama perjalanan menuju dua titik penuh sejarah tersebut pejalan kaki akan melewati titik-titik yang bersejarah di kota Bogor.  ramah bagi penggunanya tidak terkecuali bagi difabel, serta membuat kawasan yang dapat memfasilitasi kegiatan masyarakat sehingga kawasan tersebut terus hidup selama 24 jam.

Ini 5 Prinsip Kunci Tim ITB dalam Rancangan Jalur Pejalan Kaki

Tim ini membuat rancangan 5 key principles diantaranya adalah Pedestrian Focused Boulevard, An Iconic Street, 25 Hour Street, Connecting the Dots, serta Efficient Transport. Jalur pejalan kaki dirancang senyaman mungkin tanpa mengabaikan standar universal design seperti penggunaan ramp dan guide untuk tuna netra. Jalur pejalan kaki juga dilengkapi oleh vegetasi peneduh dan kanopi pelindung dari hujan. Prinsip kedua, yaitu perancangan jalan yang ikonik karena memiliki potensi untuk menjadi daerah cagar budaya.  Prinsip ketiga, yaitu 25 hour street merupakan pembuatan titik generator aktivitas pada Jalan Sudirman. Kawasan ini adalah kawasan public plaza di halaman Museum PETA, main plaza pada Taman Air Mancur, serta kawasan komersil. Kawasan ini didesain agar suasananya dapat hidup di siang hari maupun malam hari, dilengkapi dengan pencahayaan yang atraktif. Beberapa hub untuk aktivitas publik yang terkoneksi satu sama lain, diantaranya public plaza, social area, dan plaza air mancur. Titik-titik halte, serta titik penyebrangan jalan juga diletakkan dalam rancangan ini dengan efisiensi pada transportasi publik.

Memulai persiapan lomba sejak Juli lalu, tim Arsitektur ITB menyadari bahwa banyak sekali iconic heritagepada kawasan yang dirancang di Jalan Sudirman Bogor. Icon tersebut diantaranya Istana Bogor, Museum PETA, dan Tugu Titik 0 Kota Bogor. Bagi tim ini, kesakralan yang dimiliki oleh elemen cagar budaya harus tetap dijaga tanpa melupakan aspek perancangan yang berkelanjutan (sustainable) untuk masa depan dari segi lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Sangat ditekankan bahwa penting bagi arsitek untuk mengetahui peraturan daerah, peraturan cagar budaya, serta melakukan riset mengenai sejarah dan elemen heritage pada kawasan yang dirancang. (uch)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ajang POMNAS 2017 Di Makasar Usung Semangat “Bersaing Bermartabat”

Peserta POMNAS 2017 berasal dari 34 provinsi dari seluruh Indonesia dan juga terdiri dari 3680 orang Mahasiswa

Close