PKKMB ITN, Ini Kompetensi Mahasiswa di Era Industri

Indeks Prestasi (IP) tinggi tak menjamin lulusan perguruan tinggi diterima di dunia kerja. Lebih dari itu, mahasiswa di era industri 4.0 harus memiliki kompetensi. Kompetensi tersebut ialah komunikasi, integritas atau kejujuran, kemampuan bekerja sama dalam tim, kemampuan interpersonal, dan beretika.

Demikian dipaparkan sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Dr Widyo Winarso MPd di depan 1.107 mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Senin (9/9). Paparan tersebut merupakan serangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITN 2019.

Untuk meraih IP tinggi, mahasiswa juga harus aktif berorganisasi. Kegiatan kurikuler berupa pembelajaran di kelas menyumbang 60 hingga 70 persen hardskill pada mahasiswa, kegiatan ko-kurikuler seperti mengikuti seminar meningkatkan hard dan softskill  mahasiswa sebesar 10 hingga 20 persen. Sedangkan, ekstra kurikuler seperti kegiatan pengembangan bakat minat akan membentuk softskill mahasiswa hingga 30 persen.

“Sikap, pengetahuan, dan keterampilan itulah yang penunjang yang dibutuhkan di era industri saat ini,” ungkap Widyo.

Softkill atau kemampuan berinteraksi sosial bahkan dibutuhkan hingga 82 persen untuk mencapai kesuksesan. Maka dari itu, Widyo mendorong mahasiswa agar tak sampai mendapat predikat mahasiswa kupu-kupu mati, yakni kuliah-pulang, kuliah-pulang, makan, tidur.

Baca Juga :  ITN Malang Resmikan Jaringan Distribusi Tenaga Listrik di Kampus 2

Menurutnya, ada empat cara menyelesaikan 144 SKS yang harus ditempuh mahasiswa strata satu untuk menjadi sarjana. Pertama, melalui pembelajaran tatap muka konvensional. Kedua, pembelajaran dalam jaringan (daring/ online) atau biasa disebut distance learning.

Ketiga, rekognisi atau credit learning. Yaitu pengakuan kredit yang diterima mahasiswa dari prestasi yang diraihnya. Misalnya, menang lomba karya ilmiah dalam pekan ilmiah nasional (pimnas), atau menjadi pimpinan organisasi tertentu.

“Pengakuan atas prestasi atau rekognisi namanya. Sekarang, banyak prestasi yang bisa diraih mahasiswa sehingga mereka tidak perlu mengerjakan tugas akhir, misalnya. Karena kompetensinya sudah setara dengan tugas akhir,” ujar Widyo.

Keempat, mahasiswa bisa melakukan pertukaran pelajar ke berbagai daerah, terutama ke luar negeri untuk menyelesaikan SKS.

Dengan langkah-langkah ini,  mahasiswa saat ini bisa menempuh banyak jalur kreatif untuk menyelesaikan batas SKSnya, tidak seperti mahasiswa zaman dahulu.

Widyo juga menganjurkan kampus agar segera menerapkan pembelajaran daring. Sistem ini bisa dimulai dengan daring mata kuliah. Bertahap, program studi harus memulai kuliah daring. “Sehingga mahasiswa bisa memiliki banyak pilihan untuk menyelesaikan SKSnya,” himbaunya.

Baca Juga :  FMIPA UM Gelar Konferensi Internasional Magnetik

Menanggapi hal ini, Rektor ITN Malang Dr Kustamar MT mengaku pihaknya siap menerapkan kuliah daring dalam waktu dekat. “Sudah siapkan tim dosen dan infrastruktur. Sudah MoU dengan Dikti juga. Sehingga segera ada tim dari Dikti, dalam waktu dekat akan bisa kuliah daring,” pungkasnya. (ich)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *