Mahasiswa UNAIR Ciptakan Posyandu bagi Gangguan Kesehatan Jiwa

Infokampus.newsGangguan kesehatan jiwa menjadi masalah kesehatan uang memiliki angka kejadian cukup tinggi, hal ini diakibatkan oleh kuranganya pengetahuan di masyarakat, maka dari itu mahasiswa Unair tergerak untuk ciptakan Posyandu bagi Gangguan kesehatan Jiwa.

Masyarakat masih lebih cenderung fokus terhadap kesehatan fisik. Padahal, kesehatan jiwa juga tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Kabupaten Lamongan sebelumbya memiliki program “Lamongan Bebas Pasung” yang telah sukses dilaksanakan, namun untuk Posyandu Jiwa sebagai upaya pencegahan gangguan tampaknya belum ada.

Berangkat dari masalah itulah Riris Medawati, Ayu Septia Malinda, Wahyu Agustin Eka Lestari, Verantika Setya Putri, dan Achmad Ubaidillah Mughni, kelimanya merupakan mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga Surabaya yang memiliki ide untuk meningkatkan kesadarn masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa.

Ide mereka dituangkan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “MENTOS (Mental Health Pos): Pos Pelayanan Preventif Gangguan Kesehatan Jiwa Melalui Pembentukan Kader Kesehatan Jiwa di Desa Daliwangun, Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan”

Riris selaku Ketua tim PKMM Unair menjelaskan bahwa dalam program ini mereka berlima membentuk akder kesehatan jiwa dengan memberdayakan anggota karang taruna desa Daliwangun. Hal ini dilakukan supaya masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan jiwa. Karena menurutnya masyarakat perlu tahu bahwa kesehatan jiwa itu juga hal yan penting selain fisik.

Dalam program ini, kader kesehatan yang merupakan anggota karang tauran diajarkan bagaimana cara screening dan edukasi masyarakat, sehingga terbentuklah pos kesehatan jiwa yang dilaksanakan di Balai Desa Daliwangun.

Sebelum membentuk kader kesehatan jiwa, terlebih dahulu dilakukan sosialisasi dengan cara memberikan penyuluhan kepada semua pemuda Kartar tentang kesehatan jiwa dengan mengundang nara sumber sebagai pemateri, yaitu Moh Siafudin S.Kep., S.Psi., M.Kes.

Sebelum membentuk sebuah kader setidaknya masyarakat perlu diebrikan bekal tentang kesehatan jiwa. Kemudian barulah dari semua pemuda kartar itu dipilih beberapa untuk dijadikan kaderm dan setelah itu diajarkan bagaimaan screening dan edukasi kepada masyarakat desa Daliwangun.

“kedepannya dilakukan monitoring setiap dua minggu sekali untuk mengevaluasi keberlanjutan kegiatan MENTOS ini” Ujar Riris. (Jul)

Leave a Reply

Your email address will not be published.