Pro Kontra Impor 500 Guru Besar, Ini Penjelasan Komisi X DPR

Infokampus.news – Wacana Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi untuk mendatangkan 500 guru besar asing ke Indonesia menuai pro dan kontra. Di satu sisi akan mendatangkan keuntungan dan perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, namun di sisi lain mempertimbangkan nilai-nilai kearifan lokal.

Kolaborasi Guru Besar untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Namun Ridwan Hisjam, anggota komisi X DPR RI mengatakan bahwa mendatangkan guru besar itu salah pengertian. Impor guru besar yang dimaksud adalah kolaborasi antara guru besar asing dengan guru besar Indonesia sesuai dengan sistem pembelajaram yang telah ada. Hal ini juga merupakan konsekuensi dari Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang memungkinkan sumber daya manusia keluar masuk dengan terbuka.

“Impor guru besar itu salah pengertian, saat ini kita susah masuk MEA, konsekuensi kita terbuka dari luar bisa masuk ke Indonesia, dan dari Indonesia masuk ke sana tidak ada batasnya. Otomatis orang luar negeri ngajar disini,” jelas Ridwan.

Baca Juga :

“Justru itu kita harus mampu bersaing karena kita punya kekuatan SDM (Sumber Daya Manusia) yang besar kita tingkatkan prestasi, harusnya kita ditakuti negara lain. Masalahnya kualitas kita yang rendah jadi kita dimasuki bangsa lain,” imbuhnya.

Dulu Pendidikan Indonesia jadi Panutan

Belajar dari puluhan tahun silam, lanjutnya, pada tahun 70an kualitas pendidikan Indonesia tinggi. Pada saat itu justru orang luar negerilah yang mencari ilmu di Indonesia.

“Orang Malaysia belajar di Universitas Airlangga, pelajar Thailand kuliah di IPB. Secara genetika dikembangkan disana padahal ilmu didapat dari sini,” ungkap anggota DPR bidang pariwisata, pendidikan, dan ekonomi kreatif.

Mengatasi Kekurangan Guru Besar, Syaratnya Dipermudah

Sementara itu, Kemenristek juga memberikan kemudahan syarat menjadi guru besar mengingat Indonesia kekurangan banyak guru besar. Persyaratan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan untuk menjadi guru besar kini dipangkas lebih cepat dan peningkatan kualitas melalui penerbitan jurnal internasional.

“Dulu dihambat sampai 6 tahun, kalau sekarang begitu memenuhi persyaratan 2 bulan selesai ya langsung diangkat, kualitasnya juga ditingkatkan melalui jurnal internasional. Indonesia harus jadi panutan jangan mengacu pada negara lain terus,” tandasnya.

Editor : Galuh – Infokampus.news

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Impor Guru Besar? Rektor UM: No Worry
Impor Guru Besar? Rektor UM: No Worry

Wacana 'Impor' guru besar asing pada tahun 2017 mendatang oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) disambut positif oleh Rektor...

Close