Prodi DKV STIKI Malang Keluarkan Kurikulum Baru, Simak Ulasan Lengkapnya

Infokampus.news– Serentak dengan prodi lain, program studi Desain Komunikasi Visual Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia (STIKI) Malang juga merombak sistem kurikulumnya. Mengimbangi kemajuan zaman industri 4.0, banyak hal yang memang perlu untuk ditambahkan agar output mahasiswa STIKI Malang mampu bersaing di era yang serba teknologi ini.

 

Kurikulum 2019 sendiri untuk prodi DKV dirancang menuju perubahan yang lebih menunjang di bidang softskill, manajerial, entrepreneur, dengan ragam media komunikasi visual tanpa kehilangan identitas ELANG (Expert, Loyal, Active, Nationalist, Gentle).

 

“Itulah caption dari perubahan kurikulum 2019. Kami ingin perubahan ini mendorong mahasiswa dan alumni kedepannya mampu secara holistic untuk menyerap, menerapkan nilai ELANG pada kehidupan profesinya yang memanfaatkan ragam media komunikasi visual.” Ungkap Kaprodi DKV STIKI Malang, Saiful Yahya, S.Sn., M.T., ACA.

 

Perubahan Kurikulum ini menurutnya sangat penting untuk dilaksanakan guna menjawab tantangan global dan juga untuk menaikkan kompetensi yang sudah terbentuk. Meskipun terbilang sangat baru, namun implementasi sudah berjalan dengan baik. Meskipun demikian, dibutuhkan evaluasi untuk setiap perubahan sehingga menjadi lebih baik lagi, mengingat kebutuhan stake holder dan tantangan mahasiswa yang terus meningkat dan berkembang serta complicated.

 

Baca Juga :  Ghost Writer 2 Akan Tayang di Bioskop Indonesia Mulai 21 Juli 2022, Simak Sinopsisnya!

“Harapan dan ekspektasi kami dari perubahan kurikulum ini, kualitas yang diiringi kuantitas, sehingga menjadikan DKV STIKI lebih memiliki peran dalam peningkatan mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia.” Imbuhnya lagi.

 

Mengubah kurikulum tentu bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa serta merta dirubah secara total. Untuk tahap pertama, prodi sendiri melakukan sosialisasidandiskusikecil.

 

“Sosialisasi kami lakukan secara keseluruhan, saat sosialisasi juga diadakan tanya jawab dan diskusi.  Selain itu jika mahasiswa masih mengalami keambiguan dalam memahami kurikulum baru, mahasiswa kami persilahkan untuk diskusi dengan dosen wali, jika masih belum jelas kaprodi siap untuk mendengarkan dan mendiskusikan kesulitan mahasiswa.” Tandasnya.

 

Jika dibandingkan dengan prodi sejenis di Perguruan Tinggi di Indonesia, pihaknya tidak bisa menilai secara pasti apakah sudah setara atau bahkan lebih unggul. Namun demikian keragaman racikan akan membuat dunia per-DKV-an lebih berwarna dan  memberikan alternative pilihan kepada masyarakat.  Mana yang lebih baik, robusta atau arabika. Selama itu kopi Nusantara, itu yang terbaik. Demikian juga DKV di Indonesia. (Sil)

 

Baca Juga :  Wah KIP Kuliah 2022 Bisa untuk Mahasiswa Kampus Swasta, Begini Cara Daftar

cska

Admin Super INFOKAMPUSNEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published.