Resah Melihat Kondisi Bangsa, Akhmad Muwafik Saleh Berbagi Cerita Melalui “Negeri yang Tercabik”

Infokampus.news, Malang – Kondisi negara yang kian hari kian memprihatinkan ternyata mampu menginspirasi seseorang untuk menghasilkan karya. Salah satunya adalah Akhmad Muwafik Saleh, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB). Keresahan berbangsa yang ia rasakan belakangan ini menginspirasinya untuk menerbitkan antologi puisi bertajuk “Negeri yang Tercabik”.

“Buku puisi ini adalah wujud kegelisahan saya atas kondisi berbangsa dimana banyak peristiwa di negeri ini yang hari demi hari makin tidak karuan, baik dari sistem kebernegaraan kita, perilaku politik, hingga nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Demikian pula bagaimana perilaku pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan.”, ujar Muwafik ketika ditemui di FISIP UB, Selasa (12/12).

Selain bercerita seputar keresahan tentang negeri, Muwafik juga bercerita tentang perjalanannya di beberapa tempat di Indonesia yang ternyata masih menyimpan mutiara di balik carut-marut negeri. “Saya menangkap beragam realitas kekacauan di berbagai tempat dan masih menemukan mutiara dibalik itu semuanya. Itu yang kemudian saya sampaikan.”, tukas dosen yang juga menjabat sebagai Pembantu Dekan III FISIP UB.

Di dalam buku “Negeri yang Tercabik”, Muwafik tak hanya bercerita persoalan negeri yang tidak berujung. Ia juga menyisipkan cerita seputar jejak sejarah Islam Andalus dimana menurutnya perlu dilakukan untuk mengekspresikan keresahan-keresahan agar tidak membatu di benaknya saja. “Maka dari itu, saya membagi buku ini menjadi dua bagian, yaitu dari Nusantara ke Andalusia.”, ungkap pengagum Taufik Ismail ini.

Muwafik, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis buku-buku motivasi memilih menggunakan puisi sebagai media untuk menyalurkan keresahan. Menurutnya, akan sangat membosankan jika keresahannya dituangkan dalam bentuk narasi. “Kalau saya tulis dalam bentuk naratif, mungkin akan terlalu jenuh karena sudah terlalu banyak.”, katanya.

Akhmad Muwafik Saleh Ajak Mahasiswa Menjadi Kritis dan Produktif dengan Menulis

Menulis, menurut Muwafik, penting halnya bagi mahasiswa. Ciri mahasiswa pada dasarnya adalah kritis. Namun belakangan ini ia menyaksikan banyak mahasiswa yang lebih memilih diam ketimbang membangun kritis.

“Dalam buku ini, saya menaruh perhatian besar kepada mahasiswa dan saya banyak bicara seputar mahasiswa. Intinya adalah ciri mahasiswa adalah kritis yang disalurkan menjadi dua hal, yaitu bersuara dan menulis. Jika dua hal tersebut tidak dilakukan, maka hilanglah jati diri mahasiswanya.”, ungkap Muwafik.

Puisi bagi Muwafik bisa dijadikan oleh mahasiswa sebagai penyaluran rasa marah yang produktif. Ia mempersilahkan bagi mahasiswa untuk kritis, bahkan marah sekalipun. Namun ia menekankan bahwa marahnya harus disampaikan dengan cara yang produktif. Ia mengambil contoh Habibie yang berhasil sembuh dari sakitnya setelah menelurkan karya buku tentang kegelisahan dan kerinduannya akan sosok istrinya, Ainun. “Menulis merupakan salah satu media menumpahkan keresahan yang menjadi 80% solusi dari permasalahan yang menimpa kita.”, tutup Muwafik. (Rak)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

sig

sosiopat-satiris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Kemenag Ajak Mahasiswa UM Peluk Islam Moderat “Agar Lebih Erat”

Islam moderat merupakan solusi paling efektif untuk mempererat hubungan antar masyarakat Indonesia yang sempat memanas. Isu radikalisme

Close