Sail to Campus: Kaka Slank di Universitas Brawijaya “Melihat Laut 2019-2024: Konservasi VS Eksploitasi”

INFOKAMPUS.NEWS –  Yayasan EcoNusa dan Gerakan Pandu Laut Nusantara bekerja sama dengan Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) Universitas Brawijaya Malang, menggelar dialog “Sail to Campus: Melihat Laut 2019-2024” di Universitas Brawijaya (UB) Malang (13/11).

“Sail to Campus menjadi komitmen EcoNusa untuk mengedukasi publik, terutama kaum muda, agar tahu isu kelautan sekaligus memberikan komitmen yang mendukung pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia ke depan,” kata Wiro Wirandi, Manajer Program Laut Yayasan EcoNusa.

Wiro juga mengatakan, Sail to Campus (STC) merupakan agenda berseri yang akan diselenggarakan di lima universitas di berbagai kota di Indonesia. Universitas Brawijaya mendapat kehormatan menjadi pembuka dari rangkaian agenda ini.

Kaka Slank di Universitas Brawijaya

STC dinilai strategis bagi kalangan akademisi dalam mendukung terwujudnya program pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. “Jangan sampai mahasiswa atau anak muda Indonesia tidak tahu bahwa anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan pada bangsa Indonesia adalah laut,” terang Andi Kurniawan, D.SC, Ketua Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya.

Baca Juga :  10 Istilah Perkuliahan yang Wajib Diketahui oleh Para Maba!

Sebagai masyarakat negara maritim, seluruh rakyat Indonesia merupakan bagian penting dari laut. Karenanya, komitmen menjaga laut agar tetap sehat dan bermanfaat harus menjadi agenda bersama. Tak hanya nelayan dan masyarakat pesisir, sudah selayaknya penduduk urban yang jauh dari laut ikut bersuara dan beraksi nyata untuk melindunginya. Hal ini sejalan dengan cita-cita Gerakan Pandu Laut Nusantara yang dibentuk Susi Pudjiastuti tahun 2018 lalu.

Salah satu penggerak Pandu Laut Nusantara, sekaligus wujud kecintaannya pada laut dan komitmen kuatnya menjaga laut Indonesia, Kaka SLANK berikan tips khusus bagi anak muda yang ingin mengikuti jejaknya. “Saya tiap keluar rumah, pasti membawa botol air minum. Dengan botol ini, saya tidak perlu lagi membeli air minum yang dikemas dalam plastik yang hanya digunakan satu kali. Ini soal gaya hidup, yang bisa kita ubah dan menjadi kontribusi nyata kita dalam menjaga laut,” ucap Kaka.

Memberikan pemahaman akan arah pembangunan kelautan dan perikanan pemerintah, sekaligus menagih komitmen para akademisi dan kaum muda untuk turut menjaga laut nusantara, menjadi ide penting dalam agenda dialog publik ini. “Weatlhy Ocean is a Healthy Ocean,” ujar Mas Achmad Santosa.

Baca Juga :  AIABI Gelar Kongres dan Seminar Nasional di FIA Universitas Brawijaya, Salah Satu Agenda Pilih Ketum Baru!

Indonesia menjadi poros maritim dunia menjadi cita-cita penyelenggara negara Indonesia sejak lama. Demi mewujudkan cita-cita tersebut, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menjaga kedaulatan laut Indonesia.

“Diantaranya dengan memberantas aktivitas penangkapan ikan ilegal oleh kapal nelayan asing, yang mampu menyelamatkan jutaan ton ikan sekaligus memudahkan nelayan Indonesia mendapat ikan,” dijelaskan Mas Achmad Santosa, Koordinator Staf Khusus Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Penangkapan Ikan Ilegal atau Satgas 115 KKP.

Masih banyak tantangan lain dalam dunia kelautan dan perikanan yang kita hadapi, seperti tata kelola perikanan tangkap, praktik bisnis perikanan tidak bertanggung jawab, hingga sampah di lautan dalam kaitannya dengan gaya hidup masyarakat. (Rls/Rfl)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.