Salahuddin Wahid, “Membasmi Korupsi, Mimpikah?”

Infokampus.news, Malang – Salahuddin Wahid, adik dari mantan presiden RI Abdurrahman Wahid, menyampaikan sebuah materi ulasan tentang korupsi berjudul ‘membasmi korupsi mimpikah?’ saat mengisi materi pada diskusi publik yang berlangsung pagi ini di Universitas Islam Malang (UNISMA).

“Seperti yang kita tau ya korupsi itu bukan permainan baru, saya dulu kontraktor juga kenyang melihat banyak aparat yang seperti itu,” ujarnya pada para peserta diskusi.

Salahudding menyebutkan ketiga hak tersebut, Korupsi Kolusi dan Nepotisme, tentu akan mempengaruhi kinerja dari para koruptor tersebut.

“Hal semacam ini tidak akan menumbuhkan profesionalisme dalam pekerjaan,” tambahnya.

Kerugian Selalu Ditanggung Oleh Rakyat

Ia menerangkan karena kebutuhan korupsi semacam ini lagi-lagi yang dirugikan adalah masyarakat sipil. Betapa tidak, banyak kita jumpai para pejabat sering menaikkan pungutan pajak pada masyarakat terlampau tinggi serta kerap kali melakukan pungutan liar.

“Pungutan yang mereka tetapkan itu kalau terlalu tinggi bisa berdampak buruk pada masyarakat, padahal ada batas yang tidak bisa mereka lampaui,” tuturnya.

Salahuddin mengambil contoh adanya alokasi dana yang kurang tepat dalam pembangunan salah satu jembatan di Mojokerto. Padahal dana yang diserap sudah begitu banyak namun bukan ketepatan waktu penyelesaian jembatan yang didapat, malah jembatan tersebut sudah roboh dahulu sebelum selesai karena konstruksinya yang buruk.

“Jembatan itu sekarang ini belum dipakai sudah ambrol, belum jadi pula sudah makan dana 40 milyar rupiah. Itu ngawur namanya mungut ya mungut tapi alokasinya ya harus tepat lah,” pungkasnya. (Pus)

Berita Terkait

  • Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam agenda Kuliah Tamu Di Dome UMM hari ini, Kamis, 10 Oktober 2016. Acara yang bertemakan “Menyiapkan Generasi Hukum yang Bersih dan Antikorupsi” ini dihadiri oleh Sujanarko, Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK.
  • Indonesia Corruption Watch (ICW) per 24 Februari 2016 lalu menyebut total kerugian negara akibat tindak pidana korupsi sepanjang tahun 2015 adalah Rp 31,077 Triliun. Prosentase terbesar tindak pidana korupsi tersebut dilakukan dengan modus penyalahgunaan anggaran sebanyak 24 persen atau 134 kasus dengan total kerugian senilai Rp 803,3 Miliar, disusul dengan modus penggelapan yakni 107 kasus, dan Mark up 104 kasus.

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Desain Grafis Masih Dipandang Sebelah Mata, Ini kata Mahasiswa Pegiat Desain

Bagi sebagian orang mungkin belum tahu apa dan bagaimana metode pembuatan desain grafis. Banyak kalangan menganggap orang yang mengerjakan suatu...

Close