Bercengkerama Bersama Satya Sandida, Pemilik Kedai Nomaden Coffee Malang

Infokampus.news, Malang – Kopi seolah tak ada matinya. Tak hanya kopi sebagai minuman, belakangan ini apapun atribut yang berhubungan dengan kopi menjadi trend tersendiri di kalangan muda-mudi masa kini. Mulai dari coffee shop kekinian, alat-alat produksi kopi, hingga profesi barista digandrungi oleh semua kalangan. Melihat trend tersebut mendorong beberapa orang untuk membuka usaha coffee shop. Salah satunya adalah Satya Sandida, pemilik kedai Nomaden Coffee Malang. Kepada tim Infokampus.news, Satya berbagi kisah seputar awal merintis usaha hingga menjelma menjadi salah satu coffee shop favorit di kota Malang.

Nomaden Coffee Malang, dari Kopi Keliling Hingga Punya Dua Kedai
Nomaden Coffee Malang, dari Kopi Keliling Hingga Punya Dua Kedai
Photo by: @kumis_segaris

Tak sulit menemukan kedai Nomaden. Kedai yang pertama terletak di daerah Kayutangan, Malang. Tepatnya di JL. Basuki Rahmat, bersebelahan dengan Digital Lounge (DiLo) Malang. Kedai yang berada di Kayutangan ini bernama District x Nomaden karena menempati sebagian tempat milik District Travel. Kedai ini menyediakan aneka minuman mulai dari kopi, teh, hingga coklat.

Kedai kedua terletak di area Pasar Tawangmangu. Lokasinya yang berada dalam lingkungan pasar nyatanya tak menyurutkan banyak pecinta kopi di Malang. Hampir setiap hari Nomaden Pasar Tawangmangu ramai dikunjungi pengunjung. Berbeda dengan kedai di Kayutangan, kedai yang satu ini khusus menyediakan minuman kopi dan teh saja.

Adalah Satya Sandida, sosok perintis Nomaden Coffee. Pencinta kopi yang memulai karirnya sebagai salesman ini mengaku pertama kali tertarik dengan usaha pengembangan kopi melalui pekerjaannya sebagai salesman yang seringkali membuatnya mampir ke warung-warung kopi. Berawal dari itu, ia kemudian memulai belajar membuat kopi baik kursus maupun otodidak demi menghasilkan kopi enak dan berkualitas. Bahkan saking totalitasnya dalam menggeluti kopi, ia rela keluar dari pekerjaannya demi merintis usaha kopi miliknya sendiri.

Awal kali merintis Nomaden Coffee dimulai dengan menjajakan kopi secara keliling. Menggunakan gerobak yang ditarik sepeda, ia mencoba meniru konsep yang ada di luar negeri. “Bedanya manual, nggak pake mesin espresso,” ujarnya ketika ditemui di District x Nomaden.

Memulai bisnisnya dari 2014 di jalanan membuatnya akrab dengan Satpol PP. Peringatan demi peringatan yang diterima belum menyurutkan semangatnya untuk memasyarakatkan kopi enak dan berkualitas.

“Masalahnya waktu itu adalah Satpol PP. Sebenarnya bukan masalah sih, tapi kita yang jadi masalahnya Satpol PP itu hahaha,” tukas alumni Perikanan Universitas Diponegoro, Semarang.

Toh setebal-tebalnya semangat pun, Satya akhirnya sempat putus. Usahanya selama setahun yang dimulai pada 2014 itu sempat akan diakhiri karena sudah mencapai peringatan ketiga dari Satpol PP. Di tengah kekhawatirannya itu, datanglah secercah bantuan untuk melanggengkan kembali usahanya.

“Kemudian ditawari sama District untuk kolaborasi tempat di tahun 2016. Sejak saat itu, Nomaden mulai ada kedai dan beroperasi sekitar tahun 2016,” kenang pria berusia 29 tahun ini.

Mulai Masuk Pasar Sambil Pertahankan Filosofi Ngopi
Mulai Masuk Pasar Sambil Pertahankan Filosofi Ngopi
Photo by: @kumis_segaris

Kesuksesan memiliki kedai mendorong Satya untuk berani mencoba hal yang baru, yaitu memiliki kedai sendiri. Pilihannya waktu itu jatuh pada Pasar Tawangmangu. Alasannya memilih pasar sebagai lokasi kedainya pun bisa dibilang sederhana.

“Pasar itu kan bisa dibilang tempat di mana hampir semua orang itu tahu, ya. Jadi waktu orang nanya tempat gitu, tinggal dijawab ‘pasar’ sudah paham,” beber Satya.

Membuka kedai di pasar sekaligus memberi arti penting dari bisnis kopi bagi Satya. Menurutnya, usaha kedai kopi yang baik adalah bagaimana bisa mengedukasi pengunjung tentang kopi sehingga tertarik untuk kembali lagi.

“Sebenarnya mengedukasi itu adalah dampak dari buka kedai di pasar. Dulu awal-awal orang selalu bilang ‘kok digiling dulu mas, yang bubuk nggak ada ta?‘. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika pengunjung melihat langsung proses pembuatan kopi mulai dari yang fresh, digiling, dan jadi secangkir kopi yang enak, ditambah peracik kopi yang berinteraksi langsung dengan pengunjung, secara tidak langsung membuat pengunjung teredukasi,” tutur pria yang saat ini tinggal di daerah Sama’an.

Sekarang, Satya mengklaim bahwa banyak pengunjung penasaran dan semakin tertarik untuk mengetahui proses membuat kopi. Hingga kini, Nomaden menurutnya telah menghasilkan 150 cup sehari.

Bagi Satya, proses membuat kopi seperti proses kehidupan. Untuk menghasilkan secangkir kopi yang nikmat memerlukan proses panjang. Sama halnya dengan hidup di mana kenikmatan dan kesuksesan hidup diperoleh dari proses yang panjang. Maka dari itu, Satya mengajak kita untuk menikmati kopi bukan sekadar dari rasa, namun juga makna filosofis kehidupan. “Maka dari itu, kalo ngopi matikan gadget, fokus pada lawan bicara dan kopinya,” tutup Satya. (sig)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

sig

sosiopat-satiris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Programmer Muda, Lowongan Kerja LINE Indonesia Terbaru 2018 Ini Patut Kalian Jajal, Lho!
Programmer Muda, Lowongan Kerja LINE Indonesia Terbaru 2018 Ini Patut Kalian Jajal, Lho!

LINE telah menjadi perusahaan IT yang berkembang dengan sangat pesat sehingga setiap tahunnya membuka kesempatan bagi tenaga-tenaga kerja berkualitas untuk...

Close