Sistem Penilaian SBMPTN 2018 Beda dengan Tahun Lalu, Seperti Apa?

Infokampus.news – Sistem penilaian SBMPTN 2018 berbeda dengan penilaian tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan Panitia Pusat SBMPTN 2018 dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto.id, Selasa (10/4/2018).

Jika pada SBMPTN 2017 lalu menggunakan skor 4 (empat) untuk jawaban benar, skor 0 (nol) untuk yang tidak menjawab, dan skor negatif 1 (-1), maka metode penilaian SBMPTN 2018 ini jauh berbeda karena ada pembobotan untuk karakteristik dan tingkat kesulitan soal yang berbeda pula serta sensitivitasnya dalam membedakan kemampuan peserta.

Tahapan penilaian oleh Panitia Pusat dibagi menjadi 3, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Tahap I, seluruh jawaban peserta SBMPTN 2018 akan diproses dengan memberi skor 1 (satu) pada setiap jawaban yang benar, dan skor 0 (nol) untuk setiap jawaban yang salah atau tidak dijawab/kosong.
  2. Tahap II, dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir (Item Response Theory) maka setiap soal akan dianalisis karakteristiknya, di antaranya adalah tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pada pola respons jawaban seluruh peserta tes tahun 2018. Dengan menggunakan model matematika, maka akan dapat diketahui tingkat kesulitan soal-soal yang dikategorikan mudah, sedang, maupun sulit.
  3. Karakteristik soal yang diperoleh pada Tahap II, kemudian digunakan untuk menghitung skor setiap peserta. Soal-soal sulit akan mendapatkan bobot yang lebih tinggi dibanding soal-soal yang lebih mudah. Tahap-tahap penghitungan skor ini dilakukan oleh tim yang memiliki kompetensi di bidang pengujian, pengukuran dan penilaian.

Melalui sistem ini, maka setiap peserta yang dapat menjawab jumlah soal yang sama dengan benar, akan dapat memperoleh nilai yang berbeda, bergantung pada soal mana saja yang bisa dijawab dengan benar.

Contohnya, peserta A dapat menjawab dengan benar 5 soal yaitu nomor 1, 5, 7, 11, dan 13, sedangkan peserta B juga dapat menjawab 5 soal dengan benar yaitu nomor 1, 5, 9, 12, dan 15. Kedua peserta tersebut akan mendapatkan skor akhir yang berbeda karena butir soal yang dijawab dengan benar oleh peserta A memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan butir soal yang dikerjakan dengan benar oleh peserta B.

“Penskoran ini sudah lama digunakan secara meluas di negara-negara maju di Amerika dan Eropa karena dengan menyertakan karakteristik setiap soal dalam penilaian, skor yang diperoleh akan lebih fair dan dapat membedakan kemampuan peserta dengan lebih baik,” tulis Panitia Pusat dalam keterangan persnya. Ia juga mengingatkan bahwa petunjuk pengerjaan soal yang sesuai dengan sistem penilaian di atas, sudah disertakan pada setiap set soal yang diujikan.

Sumber: Tirto.id

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *