Berlakukan Stiker Kendaraan, UB Tuai Pro Kontra Mahasiswa

Infokampus.news – Kebijakan baru Universitas Brawijaya (UB) mengenai penanggulangan kemacetan di area kampus menuai pro kontra dari kalangan mahasiswa. UB mulai menerapkan aturan baru untuk berlalu lintas di kawasan kampus. Aturan baru ini ialah penutupan gerbang sisi utara ke arah Jalan Soekarno-Hatta, larangan masuk untuk ojek online, dan pemberlakuan stiker kendaraan UB. Sehingga kendaraan umum seperti ojek online hanya bisa menurunkan penumpang di depan gerbang UB Veteran.

Melansir dari Tribunjatim, Nella Valensia, mahasiswa FIA UB yang biasa naik ojek online setiap hari ke kampus kini memilih naik minibus yang melewati FIA. Ia naik dari depan FK dimana ada minibus ngetem.

Candra Prawibisono, salah seorang sopir minibus mengaku bersedia mengantar mahasiswa meski hanya satu orang agar tidak terlambat kuliah. Usai mengantar mahasiswa, kendaraan kembali balik ke pangkalan menunggu penumpang. Candra menjelaskan, banyak mahasiswa yang naik busnya. Sementara pantauan di gerbang Jl. Veteran, mahasiswa yang kendaraannya belum berstiker bisa masuk dengan menunjukkan KTM. Sedangkan untuk tamu-tamu dari luar UB diberi kartu identitas.

Rektor UB, Prof Dr Nuhfil Hanani AR, mengungkapkan bahwa aturan yang diterapkan ini bertujuan mengurangi kemacetan yang ada. Penutupan pintu gerbang Soekarno-Hatta ini merupakan permintaan langsung dari Wali Kota Malang, Sutiaji.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan membuka gerbang Utara di jalan Mayjen Panjaitan sebagai pengganti jalur gerbang Soekarno-Hatta.

Sementara itu, Kepala Sub Humas dan Kearsipan Universitas Brawijaya, Kotok Gurito mengatakan bahwa selain menutup pintu gerbang utara, UB juga akan memberlakukan kembali sistem stiker bagi kendaraan yang masuk UB.

Pemberlakuan aturan kebijakan ini diterapkan mulai Senin (28/1/2019). Pihak UB pun akan menambah petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk.

Di sisi lain, ternyata kebijakan pemberlakuan stiker UB ini menuai kontra dari mahasiswa. Salah seorang mahasiswa dengan nama akun @renjirenko mengutarakan keresahannya Melalui akun instagram yang berbunyi sebagai berikut.

“Yaahhh kok pake stiker, nanti kalo luntur gimana stikernya, kalo ada yang plagiasi stiker?”

Hal ini memang patut dipertimbangkan, Menurut pengakuan salah seorang mahasiswa yang mamasang stiker sejak 2016 lalu, stiker kendaraannya sudah luntur karena terbuat dari bahan yang mudah hancur terkena hujan dan panas.

“Kenapa enggak diintegrasiin ke KTM aja jadi lebih efisien dan efektif. Jadi tinggal di-tap aja mirip masuk ke perpus gitu,” lanjut pemilik akun @renjirenko itu.

Keluhan lain yang terdengar yakni terkait minibus yang belum menjangkau seluruh fakultas. Mengingat kampus UB yang sangat luas, ada pula gedung-gedung fakultas yang lokasinya jauh dari pintu gerbang aktif. Mahasiswa yang biasanya menggunakan jasa ojek online hingga diantar ke fakultas, merasa keberatan untuk berjalan ke fakultas yang jaraknya cukup jauh dari tempat driver menge-drop penumpang.

Sebagai solusi, dua minibus dari Kementrian Perhubungan dan satu mobil Kia Pregio diaktifkan sebagai mobil pengantar mahasiswa sejumlah fakultas di UB, Senin (28/1/2019). Tiga unit kendaraan ini akan berkeliling di tiga jalur setiap 15 menit sekali. Hal ini sebagai dampak pemberlakuan kawasan kampus berstiker.

Meskipun demikian, tamu yang tidak memiliki stiker kendaraan UB tetap bisa masuk ke UB dengan mengenakan ID card khusus yang telah disiapkan petugas keamanan di setiap pintu gerbang masuk UB.  (him)

Leave a Reply

Your email address will not be published.