Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Lebih Manjur, Miris Indonesia Masih Impor 90% Bahan Ini!

Infokampus.news, Malang – Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Indonesia ternyata lebih manjur daripada obat generik, lho. Namun sayangnya pengobatan di Indonesia masih saja terpaku oleh ilmu kedokteran barat yang sangat bergantung pada obat kimia.

Mirisnya lagi, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam ini dengan sukarela mengimpor bahan baku obat dari luar negeri.

“Padahal potensi kekayaan hayati Indonesia, untuk penelitian saya ini terfokus pada anti-cancer dan anti-aging ya, itu sangat besar,” ujar Prof. Dr. Widodo Guru Besar FMIPA UB.

Untuk itulah dirinya membuat daftar tanaman yang berkhasiat untuk mengatasi dua penyakit tersebut karena selama ini tidak ada yang membuat database semacam itu, ditambah lagi pemerintah yang masih belum menjangkau ranah ini.

“Padahal PT (perguruan tinggi) seperti UB ini kita punya SDM cukup mumpuni untuk melakukan kajian di bidang herbal. Tapi permasalahannya rata-rata penelitian itu independen dan tidak terkoneksi serta tidak ada ketuanya, ditambah lagi pendanaan tidak kontinyu,” ungkapnya.

Produk herbal Indonesia sendiri terbukti sangat efektif menyembuhkan berbagai penyakit karena memiliki multitarget dengan senyawa aktif. Berbeda dengan obat kimia yang hanya memiliki single molecule.

“Itu hanya klaim mereka saja single molecule. Katanya kalau single molecule itu less-effect dan lebih tepat sasaran, tapi buktinya ya banyak juga efek sampingnya,” tuturnya lagi.

Pilar-Pilar Dari Pemerintah Akan Selamatkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

Ia berharap, untuk mendukung produk obat herbal Indonesia, pemerintah memberikan beberapa peraturan khusus. Yakni membuat regulasi 5 pilar untuk mendayagunakan SDA lokal sebagai bahan baku obat.

“Pertama, pemerintah harusnya tetapkan biodiversivitas (keanekaragaman hayati -red) agenda riset nasional bahan baku obat. Kedua, bentuk pusat kajian bahan alami Indonesia. Lalu ketiga, bentuk database nasional bahan alam Indonesia yang selama ini (database) malah dibikin (oleh) orang Jepang. Selanjutnya bikin regulasi yang jelas untuk startup peeusahaan berbasis bahan alam, fasilitasi pembinaan lalu pengolahan produk itu yang baik dan berstandar serta terukur agar bisa diterima POM/regulasi kedokteran modern. Terakhir, revitalisasi jaminan kesehatan berbasis bahan herbal Indonesia.”

Dengan beberapa pilar regulasi seperti ini diharapkan ekspor bahan baku obat bisa menurun drastis. Selain itu rakyat Indonesia juga lebih diuntungkan. (Pus)

Leave a Reply

Your email address will not be published.