Terkait Surat Edaran DIKTI, Ini Tanggapan WAREK I UB

Infokampus.news, Malang – Beredarnya surat edaran Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tentang larangan penerimaan hadiah yang ditujukan kepada tenaga pengajar di lingkungan perguruan tinggi ini sendiri mendapat berbagai macam tanggapan dari kalangan civitas akademika Universitas Brawijaya. Poin yang disampaikan dalam surat edaran itu sendiri adalah sebuah larangan dosen perguruan tinggi dalam menerima hadiah dalam bentuk apapun.

Wakil Rektor I Setuju Pelarangan Pemberian Hadiah Pada Dosen

Dalam menanggapi surat edaran tersebut, Wakil Rektor I UB, Prof. Kusmartonomengaku sejtuju dengan poin larangan dosen menerima hadiah. Dirinya mengatakan, segala proses penerimaan hadiah tersebut diakuinya sudah harus diberantas.

“Sudah memang sewajarnya dalam praktek penyelenggaraan pendidikan, tenaga pengajar tidak boleh menerima segala bentuk hadiah,” Paparnya.

Mahasiswa Bingung, Apa Konsumsi Saat Sempro bentuk pelanggaran?

Namun, yang menjadi sorotan byak mahasiswa dari adanya surat edaran tersebut salah satunya adalah pemberian konsumsi kepada dosen dalam penyelenggaraan praktek pendidikan seperti dalam kegiatan seminar proposal (SEMPRO). Diakui Mega Fathiya, Mahasiswa FMIPAUB tersebut mengaku bingung apakah pemberian konsumsi dalam kegiatan sempro tersebut menyalahi aturan atau tidak.

“Kan selama ini hal tersebut menjadi tradisi, istilahnya kan tidak enak kalau tidak memberi. Kalau selama ini sih aturannya tidak ada, jadi kerelaan hati saja,” Paparnya.

Menanggapi permasalahan,tersebut, Prof. Kusmartono berpendapat bahwa pemberian konsumsi pada kegiatan tersebut bukan termasuk pelanggaran dalm surat edaran DIKTI. Dirinya beranggapan, yang bisa dikategorikan dalam hadiah yang dimaksud surat edaran itu sendiri berupa uang, atau barang berhaga lainnya.

“Pemberian hadian kan bisa disebut gratifikasi jika nominalnya diangka 250 Rb, jadi hal seperti pemberian konsumsi memang tidak termasuk. Apalagi saya percaya tenaga pengajar UB itu profesional tidak mungkin Cuma memberi konsumsi para mahasiswa bisa lulus dengan mudah,”Jelasnya.

WAREK I : Tradisi Tersebut Memang Harus Dihentikan

Namun, diakui Prof. Kusmartono, tradisi tersebut memang harus dihentikan. Selain dapat memberatkan mahasiswa, hal tersebut juga dapat menggangu persiapan mahasiswa itu sendiri dalam menyongsong kegiatan akademik seperti sempro.

“Toh selama ini tidak ada peraturan yang mengharuskan membawa konsumsi saat sempro. Pokoknya yang terpenting itu belajar dan menguasai materi, tidak usah repot-repot pakai bawabkonsumsi segala. Toh tidak mempengaruhi nilai dan kelulusan juga,” Jelasnya. (uch)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ini Presentase Kuota Penerimaan Mahasiswa UB Tahun 2017 dari Berbagai Macam Jalur

Universitas Brawijaya (UB) pada tahun akadamik 17/18 dipastikan akan mengurangi jumlah penerimaan mahasiswa barunya.

Close