Ternyata Genangan Banjir Bisa Disulap Jadi Lahan Budidaya Ikan!

Infokampus.news – Drainase bawah permukaan (subsurface drainage) sering dibuat untuk mengatasi debit limpasan permukaan apabila terjadi genangan akibat banjir. Namun pengembangan teknologi drainase bawah permukaan ini bisa dikembangkan sebagai model konservasi air. Inovasi ini bisa diwujudkan jika teknologi ini digunakan untuk menampung mata air yang berlimpah dan dimanfaatkan untuk budidaya ikan sehingga berdampak ekonomi.

Model ini telah dilakukan di wilayah Purwantoro-Blimbing Kota Malang. Beberapa tahun terakhir ini muncul beberapa titik mata air (spring) yang diduga sebagai dampak positif kegiatan kampung konservasi di RW 23 Kelurahan Purwantoro, atau yang lebih dikenal sebagai Kampung 3G (Glintung Go Green) yang secara morfologi lebih tinggi dari RW 5. Munculnya mata air ini sayangnya masih belum dimanfaatkan oleh warga.

“Warga kami khawatir jika musim penghujan datang, kondisi saluran air yang ada tidak mampu menampung air hujan kalau salurannya terlanjur terisi air dari mata air. Kami takut banjir,” ujar Ageng selaku Ketua RW5.

Genangan banjir yang dikhawatirkan warga memang beralasan, karena kondisi sungai yang melintasi RW 5 sudah penuh dengan sedimen/waled dan elevasi dasar sungai lebih tinggi dari saluran drainase sehingga perlu di keruk. Menimbang hal tersebut, Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Brawijaya melalui kegiatan Doktor Mengabdi menawarkan solusi penanganan.

Diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS sebagai ahli bidang konservasi, sejak tahun 2017 telah dilakukan kegiatan Doktor Mengabdi berjudul IbM Drainase Bawah Permukaan untuk Mengatasi Aliran Rembesan di RW 23 dan RW 5 Kelurahan Purwantoro-Blimbing Kota Malang. Pada kegiatan ini telah dilakukan pekerjaan fisik drainase bawah permukaan menggunakan kombinasi pipa PVC dan box culvert yang menampung aliran air dari beberapa titik spring (mata air) di wilayah tersebut.

Pipa PVC berdiameter 12” dan box culvert berukuran lebar 0,5 m dipasang sepanjang total sekitar 200 meter menuju outlet sungai utama. Saluran box culvert bawah tanah ini dimodifikasi sehingga bisa digunakan untuk budidaya ikan Gurami dan sejenisnya sehingga bermanfaat bagi warga sekitar. Selain itu kegiatan Doktor Mengabdi ini juga memberikan bantuan Pompa Centrifugal sejumlah 1 unit untuk digunakan sebagai pompa darurat pengoperasian kondisi banjir jika muka air di sungai utama lebih tinggi.

“Kegiatan konservasi air sangat penting untuk dilakukan. Keberadaan air bersih dengan kualitas baik sangat terbatas, dengan melakukan konservasi akan memperlambat aliran air menjadi limpasan permukaan yang akan hilang begitu saja menuju ke outlet sungai dan waduk,” terang Prof. Bisri.

Meski kegiatan Doktor Mengabdi ini merupakan kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh LPPM yang didanai oleh PNBP Universitas Brawijaya, keterlibatan masyarakat mengambil peran yang sangat besar.

“Hampir seluruh pengerjaan proyek ini dilakukan dengan kerjabakti. Masyarakat turut membantu langsir material, penggalian tanah, dan pembongkaran saluran eksisting,” tukas Ketua Badan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Teknik UB, Dr. Runi Asmaranto, ST., MT. (Pus/Mik)

Sumber: Humas FT UB

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
tips mahasiswa baru
Tips Kuliah Untuk Kamu yang Resmi jadi Mahasiswa Baru

InfoKampus.news – Hai, selamat buat kamu yang resmi di terima di perguruan tinggi Negeri maupun Swasta impian kamu. Kali ini

Close