Tongkat Pintar Ala Mahasiswa TI UB Ini Berhasil Juarai 8 Hours Students Asia Pacific Design Challenge (APDeC) 2017!

Infokampus.news, Malang – Hanya dengan waktu 8 jam para mahasiswa TI UB berhasil juarai 8 Hours Students Asia Pacific Design Challenge (APDeC) 2017. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, Rabu, 1 November 2017 ini mereka berhasil mengalahkan beberapa kompetitor dari negara lain yang juga tidak kalah hebat rancangan desainnya.

Adalah tiga mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (TI FT-UB) Roby Kurniawan,  Fachrezy Pangestu Widi, dan Destantri Anggun Rizky.

“Hanya dalam waktu delapan jam saja, peserta diharapkan dapat menghasilkan suatu konsep desain sesuai dengan masalah yang dihadapi. Selain disesuaikan dengan tema desain yang berkelanjutan, desain tersebut harus sesuai dengan kebutuhan khusus para penggunanya.” Ujar ketua tim yang tergabung dalam tim Brawijaya satu ini.

Juarai 8 Hours Students Asia Pacific Design Challenge Didesain Untuk Membantu Penyandang Disabilitas

Seperti dikutip dari laman Universitas Katolik Parahyangan, Kompetisi APDeC mengambil tema “Design for Special Population: Mobility & Sustainability”. Dalam tantangan ini, para peserta bisa mendapatkan informasi dari observasi dan wawancara langsung dengan populasi berkebutuhan khusus, seperti orang dengan keterbatasan fisik, pengguna lanjut usia, juga anak kecil.

Dari sinilah mereka ahirnya memiliki ide untuk membuat produk ini bernama Can Helper (Cane and Cap Helper for Blind People). Desain ini terdiri dari dua alat, cane helper berupa tongkat dan cap helper berupa topi.

“Pada perangkat pertama, cane helper, terdapat sensor untuk mendeteksi objek disekitar radius 2 meter. Tongkat ini bergetar ketika mendeteksi sebuah objek. Kelebihannya adalah tongkat ini bisa dilipat seperti tripod dan dibuat dengan material yang kuat. Semua ini kami sesuaikan dengan kebutuhan pengguna,” tambah Robi

Kemudian perangkat kedua berupa topi cap helper. Untuk melengkapi tongkat, cap helper  dilengkapi sensor yang berfungsi mendeteksi benda yang berada di depan atau diatas kepala.

“Diharapkan sensor ini membantu mobilisasi para penyandang tuna netra dan mencegah mereka menabrak objek disekitar kepala mereka.” Paparnya kemudian

Menurut Roby sendiri, tantangan bagi tim adalah mereka harus bisa memanajemen waktu dan membuat desain produk yang sesuai dengan keinginan pengguna. Beruntung sesi wawancara dengan penyandang tunanetra secara langsung mampu membuat mereka paham apa yang sebenarnya para penyandang disabilitas dibutuhkan. (Pus/And)

Sumber: Humas FT UB

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ini 9 Fakultas Ekonomi Terbaik di Dunia yang Wajib Kamu Ketahui!

Tiap tahunnya fakultas ekonomi menjadi fakultas terfavorit di beberapa universitas, sekaligus menjadi fakultas paling diminati

Close