Tren S-2 di Kalangan Masyarakat

Melanjutkan sekolah S2 bukan perkara yang mudah. Kamu harus memiliki IPK minimal 3,00 sebagai persyaratan, biasanya seperti itu. Namun banyak juga dari lulusan S1 yang langsung bekerja tanpa bersekolah lagi.

Tidak bisa dipungkiri saat ini mungkin beberapa masyarakat beranggapan melanjutkan pendidikan lebih tinggi merupakan suatu tren. Selain untuk pekerjaan, juga menjadi kepuasan tersendiri.

“Karena saya ingin menjadi dosen, ya, saya harus melanjutkan S2,” Jelas Tian, salah satu Mahasiswa S2 di ITS.

Dosen menjadi salah satu pekerjaan yang dicari bagi sebagian lulusan S1. Namun dengan bergelar S1 saja tidak cukup, kamu harus bersekolah lagi untuk lebih menambah ilmumu dalam mengajar di suatu kampus nantinya.

“Pada dasarnya saya suka penelitian. Saya tidak mau menunda melanjutkan pendidikan, karena kalau ditunda-tunda, nanti malah jadi tidak kesampaian karena males,” Jelas Nina, Mahasiswi lulusan S2 di Ritsumeikan University, Jepang, yang dihubungi baru-baru ini.

Bagi sebagian mahasiswa yang baru lulus sarjana, terutama yang lulus cepat (3,5 tahun), mungkin melanjutkan pendidikan tidak ada salahnya.

“Kebetulan saya barusan lulus, namun masih bingung mau kerja apa. Nah, kemarin itu diajak teman ikut seminar S2. Sekarang ini masih nunggu pengumunan keterima atau tidaknya,” Tutur Rifka, Mahasiswa lulusan S1.

Dilansir dari pernyataan kampus.top, Salah satu tren dalam proses pencarian karyawan oleh berbagai perusahaan di beragam negara adalah meningkatkan kualifikasi akademis minimal. Jika dulu lulus S-1 saja cukup menjadi bekal pencarian kerja, maka kini standarnya mulai naik menjadi S-2.

Meski tren ini belum terlihat di Tanah Air, anak muda kian berbondong-bondong segera melanjutkan studi lanjutan setelah menjadi sarjana. Bagi Rektor universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rochmat Wahab, kesadaran melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang pascasarjana sebenarnya bisa disesuaikan kebutuhan karier setiap orang.

“Itu sebabnya, banyak pekerja senior yang masih menyandang gelar Sarjana (S-1). Namun jika kariernya mengharuskan dia sekolah lagi, maka dia bisa ambil studi S-2, misalnya jika ingin menjadi dosen,” ujar Rochmat saat dihubungi Okezone, baru-baru ini.

Beberapa perusahaan, kata Rochmat, mungkin masih memakai S-1 sebagai kualifikasi minimal calon pekerja mereka. Namun ketika harus menghadapi promosi dan butuh kualifikasi tambahan, maka perusahaan bisa jadi meminta si karyawan mengambil kuliah pascasarjana. (AB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Indonesia Lawyers Club Goes to Campus

TV One bekerjasama dengan BEM KEMA, BEM Bima Fikom & BEM FH Universitas Padjadjaran, dan Hima PR Unisba dengan bangga...

Close